Kabar Sawahlunto 2021: Dua Tahun Setelah Menjadi World Heritage UNESCO

Setelah benar ditetapkan, justru belum ada kesiapan dan terjadi kebingungan dalam pengelolaan

Penulis: Salma FK

Awak Lampau belum lama ini menjajal platform Instagram untuk menyebarluaskan informasi. Di samping IG post yang sudah berjalan per Juni 2021, 1 Agustus  lalu kami mengudara lewat siaran langsung Instagram  (IG Live). Dalam kesempatan ini Tyassanti, Content Manager Lampau, mengantarkan para pemirsa untuk menengok kabar Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto pasca dua tahun penetapannya sebagai warisan dunia oleh UNESCO.

Sebuah kehormatan bagi Lampau, karena dalam siaran langsung perdana ini dapat menghadirkan narasumber langsung dari Sawahlunto, yakni Rahmat Gino. Sehari-hari Uda Gino —sapaan akrab beliau— menjalankan tugasnya pada Dinas Kebudayaan, Tinggalan Bersejarah, dan Permuseuman Kota Sawahlunto sebagai Kepala Bidang Tinggalan Bersejarah dan Permuseuman. Uda Gino adalah salah seorang yang telah turut berupaya atas penetapan status Sawahlunto dan sekarang memiliki peran untuk “menjaga” warisan tersebut.

Rahmat Gino (Panelis)
Tyassanti (Moderator)

Sebagai informasi, Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto (OCMHS) ditetapkan sebagai warisan dunia pada tanggal 6 Juli 2019 dalam rapat sesi pagi World Heritage Committee di Baku, Azerbaijan. Bersama keenam cultural sites lain di Australia, Bahrain, Cina, India, Jepang, dan Laos, hal ini tentunya menjadi suatu kebanggaan bagi Indonesia. 

Jangan terkecoh, meski hanya Sawahlunto yang tertulis dalam nama warisan dunia ini, sebenarnya cakupan wilayah yang ditetapkan meliputi tujuh kabupaten/kota di Sumatera Barat. Hal tersebut tak lepas dari sejarah OCMHS yang pada abad ke-19 dan 20 merupakan satu kesatuan sistem pertambangan yang kompleks. Saat itu pusat kota sekaligus lokasi pertambangan berada di Sawahlunto. Hasil tambang yaitu batu bara kemudian diangkut menggunakan kereta api melewati daerah-daerah perbukitan yang kini masuk dalam beberapa wilayah administratif kabupaten/kota. Proses pengangkutan berakhir di Kota Padang di mana batu bara dapat disimpan terlebih dahulu di gudang atau langsung diangkut menggunakan kapal yang bersandar di Pelabuhan Emmahaven, Teluk Bayur.

Menurut Uda Gino, sebenarnya Sawahlunto tidak dijagokan untuk ditetapkan sebagai warisan dunia. Usai ditetapkan sebagai kawasan Cagar Budaya tingkat nasional pada 2014, di tahun selanjutnya Sawahlunto hanya terdaftar dalam  tentative list UNESCO. Merespon hal itu, tim dari dinas terkait, bekerja sama dengan Pemda Sawahlunto pun menyusulkan dokumen nominasi Sawahlunto ke UNESCO pada 2016. Dokumen tersebut diproses dan telah melalui proses revisi yang panjang hingga pada 2019 lalu dikeluarkan pengumuman ditetapkannya Sawahlunto sebagai warisan dunia versi UNESCO. Rasanya jerih payah dan upaya dari banyak pihak selama ini langsung terbayar tuntas. 

Lantas, apa dampak yang didapat oleh Sawahlunto setelah menjadi warisan dunia?

“Pasca penetapan di Juli 2019, yang paling terlihat adalah naiknya kunjungan wisatawan mancanegara ke Sawahlunto”, ungkap Uda Gino. Turis asing yang memang berminat pada tinggalan budaya sengaja datang. Mereka ingin melihat secara langsung, bagaimana sih situs warisan dunia UNESCO yang baru? Adanya label dari UNESCO seolah memberi daya tarik tersendiri. 

Begitu pun dengan kunjungan pelancong maupun peneliti dalam negeri. Wisatawan lokal sebelumnya hanya mengenal Kota Sawahlunto dengan objek wisata seperti wahana air, kebun binatang. Namun, kini Sawahlunto juga dikenal sebagai eks kota tambang batu bara dengan status mentereng tingkat internasional. Termasuk juga meningkatkan perhatian dari akademisi dan orang-orang yang berkecimpung dalam dunia pelestarian warisan budaya.

*

Hal di atas adalah cerita sebelum pandemi melanda. Pandemi Covid-19 jelas memberi dampak pada situs ini. Jumlah kunjungan menurun, masyarakat pun urung merasakan manfaat dari adanya penetapan ini. Meski demikian, Pemerintah Sawahlunto tetap mencoba berinovasi dengan mengadakan kunjungan virtual, webinar, serta tetap melakukan pekerjaan yang dinilai penting terkait keberadaan OCMHS.

“Kalau saya boleh berpendapat, sebenarnya pandemi menyelamatkan situs ini”, Uda Gino bercerita. “Jaringan jalan sangat terbatas. Jika pandemi tidak terjadi, akan datang 10, 20 rombongan bus ke kota lama, membuatnya menjadi crowded  dan kewalahan. Sawahlunto belum siap”. Selama dua tahun Sawahlunto ditetapkan, Uda Gino menilai belum ada langkah-langkah dari pemerintah baik pusat maupun provinsi untuk turut mengatur dan menata pengelolaan wisata di Sawahlunto. 

Masalah lain yakni, ketiadaan badan pengelola khusus yang bertugas menangani OCMHS. Pemerintah Sawahlunto sebenarnya juga telah berupaya mengirimkan surat pada pemerintah pusat terkait hal tersebut. Dengan harapan segera dibentuk badan pengelola. Namun hingga saat ini masih nihil respon dan aksi nyata. Memang ada wacana pembentukan Badan Layanan Umum (BLU) untuk mengelola aneka ragam warisan budaya di Indonesia. Namun nyatanya, kebijakan itu juga belum teraplikasikan di Sawahlunto. Semua masih digarap mandiri oleh Pemda dan beberapa institusi terkait di tingkat lokal.

Uda Gino sempat berceletuk, “Sudah sepantasnya masalah warisan dunia di Indonesia menjadi isu nasional. Semakin banyak wilayah lain yang ingin menjadi warisan dunia, tetapi setelah benar ditetapkan, justru belum ada kesiapan dan terjadi kebingungan dalam pengelolaan. Jangan sampai pemerintah pusat dan para stakeholder berpusat pada heritage yang banyak duit berputar di sana. Kami dan wilayah lain juga perlu didukung.”

*

Itulah sedikit cuplikan kabar dari Sawahlunto, yang sudah dua tahun ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Untuk lengkapnya silakan simak pada laman kami di Instagram TV Live @lampauin. Kami berharap fenomena yang terjadi di Sawahlunto ini dapat menjadi sebuah refleksi bagi wilayah manapun yang ingin mengusulkan atau diusulkan menjadi World Heritage. Semoga perbincangan singkat dengan tokoh yang setiap hari merasakan dinamika di sana, Uda Gino, dapat memperkaya informasi kita tentang kegiatan pelestarian cagar budaya, sekaligus kerja-kerja kebudayaan secara umum yang melibatkan banyak sektor praktis. 

Tentang Penulis

Salma FK
Anak rumahan. Suka menguji resep2 kudapan. Berminat pada Arkeologi Klasik juga berbagai hal tentang penanganan Warisan Budaya. Bisa dihubungi via surel di salmafk97@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: