Di Lawu, Sejarah Bercerita Sendiri

Lawu menjadi tempat di mana sejarah terkunci dalam sebuah bentang alam. Kunci itu terbuka bagi anak-anak tiap zaman yang menyempatkan diri untuk berkunjung, berziarah dalam laku pendakian.

Fragmen ini merupakan serapan dari pengalaman Baraputra M.W yang telah diolah dan ditulis ulang oleh Redaksi Lampau.

Asap dari Kawah Candradimuka di puncak Lawu tampak mengepul dari kejauhan. Asap itu, juga segala hal tentang Lawu, bagi saya yang telah beberapa kali mendaki gunung ini, selalu terasa agung. Tak pernah ada rasa bosan yang hinggap. Tiap pendakian menjadi sarana refleksi pribadi. 

Fitur alam dan sejarah yang kerap ditemui dalam perjalanan bukan hanya menjadi penyemangat dan penawar hati saat menempuh trek yang terus menanjak dan sunyi, tetapi juga sebagai objek refleksi tentang betapa tuanya memori kolektif tentang Lawu, salah satu gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan puncaknya yang berada di titik 3.265 mdpl. 

Mitos yang menyelimuti Gunung Lawu konon dapat ditarik ke sekira abad ke-15 Masehi. Prabu Brawijaya V, salah satu raja terakhir dari Kerajaan Majapahit, dikisahkan tengah bersedih sebab putranya, Raden Patah tidak mau melanjutkan pemerintahan Majapahit. Sang putra malah ingin mendirikan pusat kerajaan baru yang berlandaskan agama Islam di Demak.

Dalam kesedihannya, Prabu Brawijaya V mendapat petunjuk bahwa Kerajaan Majapahit akan segera runtuh. Ia lalu memutuskan untuk menjauhi keramaian dunia dan menyepi ke Puncak Lawu bersama Ki Sabdo Palon, abdi setianya. Di Lawu, mereka bertemu dua kepala dusun yang juga abdi setia kerajaan: Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Karena kesetiaan mereka, Prabu Brawijaya V mengangkat Dipa Menggala sebagai penguasa Lawu dengan gelar Sunan Gunung Lawu sementara Wangsa Menggala diangkat menjadi patih dengan gelar Kyai Jalak.

Mirza Krisna Gita Pratiwi (2017) dari Universitas Negeri Surabaya dalam penelitian bertajuk Mitos-Mitos di Gunung Lawu: Analisis Struktur, Nilai Budaya, dan Kepercayaan menyebutkan munculnya mitos Jalak Gading, yang hingga sekarang masih dipercaya oleh banyak pendaki, bermula saat Prabu Brawijaya bertitah kepada Dipa Menggala untuk menjaga dan menjadi penguasa di Gunung Lawu hingga batasan-batasan yang diberikan oleh Prabu Brawijaya sedangkan Wangsa Menggala sebagai Kyai Jalak, yang sekarang berwujud sebagai burung Jalak Gading, bertugas membantu mengarahkan jalan kepada para pendaki. 

***

Pada kesempatan ini, saya akan menceritakan pengalaman bertemu aneka warisan budaya ketika mendaki lewat lima jalur resmi Lawu. Kelima jalur tersebut adalah: Jalur Candi Cetho di Kecamatan Jenawi, Jalur Tambak yang baru beberapa bulan lalu dibuka dan terletak di Kecamatan Ngargoyoso, Jalur Cemoro Kandang di Tawangmangu, Jalur Cemoro Sewu  di Kecamatan Plaosan, Magetan dan Jalur Singolangu. Di luar kelima jalur resmi tersebut, sebetulnya ada beberapa jalur lain yang bisa ditempuh, seperti misal Jalur Jogorogo di Ngawi dan Jalur Panekan di Magetan. Sementara, ada juga jalur yang telah ditutup bagi para pendaki sebab riskan longsor dan pelbagai alasan keamanan lain, yakni Jalur Tahura yang ditutup sejak kebakaran hutan 2015 silam. 

Jalur Pertama dan Kedua

Jalur pertama adalah jalur yang sedari awal sudah sarat dengan tinggalan budaya. Bagaimana tidak, jalur ini dimulai dari Candi Cetho, situs yang diperkirakan aktif difungsikan sebagai tempat pemujaan pada abad ke-15. Seperti lazimnya prosedur sebelum naik gunung, pendaki harus melakukan registrasi terlebih dahulu. Pos registrasi bagi jalur ini kebetulan terletak bersebelahan langsung dengan  Candi Cetho. Sekitar 10 menit perjalanan dari pos registrasi, pendaki akan menjumpai Candi Kethek. Tak jauh dari sana terdapat Situs Pamoksan Brawijaya yakni mata air yang dibendung dalam sebuah kolam.

Dari areal Candi Kethek hingga Pos Gupakan Menjangan, saya tidak menemukan adanya jejak-jejak tinggalan budaya. Barulah ketika sampai di pelataran Hargo Dalem, titik temu seluruh jalur pendakian sebelum tiba di Puncak Hargo Dumilah, pendaki akan menemukan tiga tingkatan teras batu. Petilasan Hargo Dalem konon dipercaya sebagai tempat tinggal dan moksanya Prabu Brawijaya V, meskipun hal ini patut diteliti lebih lanjut sebab di Trowulan juga ditemukan makam milik Prabu Brawijaya V. Di sekitar petilasan terdapat beberapa jejak tinggalan kuno seperti tumpukan batu yang dikelilingi bekas pagar batu yang sekarang sudah rusak, dan batu lumpang.

Suasana Pendakian di Jalur Candi Cetho. (Sumber: Dok. Baraputra M.W.)
Pasar Dieng di Jalur Candi Cetho (Sumber: Dok. Baraputra M.W.)
Susunan Batu Menyerupai Gapura di Pasar Dieng, Jalur Candi Cetho. (Sumber: Dok. Baraputra M.W.)

Jalur kedua adalah Jalur Cemoro Kandang. Peziarah jamak menggunakan jalur ini sebagai pintu masuk ketika berziarah menuju puncak Gunung Lawu di malam satu Suro. Sorot cahaya senter mereka membentuk garis cahaya terang di malam hari. Pendaki akan memulai persiapan mereka dari posko basecamp Anak Gunung Lawu. 

Trek menuju Pos 1 dan Pos 2 didominasi vegetasi sengon. Dari Pos 2 menuju Pos Bayangan terdapat sebuah mata air yang kerap diberi sesajen. Mata air berbeda, para pendaki kerap menyebutnya Sendang Panguripan, juga terdapat di jalur antara Pos 3 menuju Pos 4. Menariknya, Pos 4 sering pula disebut dengan nama Pos Cokro Suryo. Cokro Suryo sendiri merupakan lambang Kerajaan Majapahit yang dahulu, konon, ada di pos ini. Sayangnya, lambang ini sekarang sudah tidak ditemukan lagi. Yang tersisa hanya Petilasan Kyai Cokro Suryo di pelataran Pos 4.

Petilasan Ki Cokro Suryo di Jalur Cemoro Kandang. (Sumber: Dok. Baraputra M.W.)
Tembok Batu di Situs Kepatihan. (Sumber: Dok. Baraputra M.W.

Di Pos 5, pendaki akan menjumpai persimpangan jalur. Apabila pendaki berbelok ke arah kanan maka akan langsung menuju ke Puncak Lawu sementara apabila mengambil jalur lurus maka akan mencapai Hargo Dalem melewati Situs Kepatihan. Situs ini dipercaya oleh masyarakat menjadi tempat tinggal dari para patih dan penasihat Prabu Brawijaya, meski kebenarannya tentu perlu diteliti lebih lanjut. Yang tampak dari situs ini kini hanyalah teras batu bersusun tiga lapis yang dikelilingi tembok batu.

Jalur Ketiga dan Keempat

Jalur ketiga adalah Jalur Tambak. Dari basecamp Tambak hingga Pos 5, saya tidak menemukan tinggalan budaya apapun. Jalur ini akhirnya menyatu dengan Jalur Tahura dan bertemu dengan Jalur Cemoro Kandang di Pos 4 Cokro Suryo.

Jalur keempat adalah Jalur Cemoro Sewu. Sekitar 15 menit dari basecamp, pendaki akan menjumpai watu lumpang di sisi kiri jalur. Mendaki melalui jalur ini cukup lebih mudah dibandingkan jalur lain karena jalur ini umum digunakan peziarah. Terdapat susunan batu yang menjadi pembatas sisi-sisi jalur sampai Kompleks Sendang Drajat. Jalur dari basecamp menuju Pos 4 tergolong curam dan licin. Setelah Pos 4, pendaki bakal menemukan gua yang dinamai Sumur Jalatunda. Di dalamnya terdapat penampungan air tanah yang dapat digunakan pendaki meski jalurnya cukup curam. Tak jauh dari gua, hanya 5 menit perjalanan, pendaki bakal tiba di Kompleks Sendang Drajat.

Jalur Cemoro Sewu Menuju Pos 1. (Sumber: Dok. Baraputra M.W.)
Watu Lumpang di Jalur Cemoro Sewu. (Sumber: Dok. Baraputra M.W.)
Sumur Jalatunda di Jalur Cemoro Sewu (Sumber: Dok. Baraputra M.W.)

Di antara Pos 5 dan Sendang Drajat, terdapat Kawah Purba Lawu dan Lembung Selayur, sebuah tempat yang dipercaya masyarakat menjadi lokasi penyimpanan bahan makanan Prabu Brawijaya V. Bila ingin melanjutkan perjalanan menjauhi jalur utama, ke arah Gua Sigolo-golo, pendaki akan menjumpai area Pawon Sewu yang dipercaya digunakan sebagai tempat memasak. Kamu bisa mengeceknya langsung dalam vlog yang kurekam.

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa Kuno, air adalah entitas yang suci sehingga Sendang Drajat disakralkan oleh para peziarah. Tak begitu jauh dari Sendang Drajat, sebuah bangunan berdiri di atas bukit. Menurut penuturan masyarakat lokal, Bapak Bet, tempat itu bernama Kaputren, yang berarti tempat tinggal para putri atau permaisuri. 

Sendang Drajat. (Sumber: Dok. Baraputra M.W.)
Sendang Drajat yang Terisi Air di Musim Hujan. (Sumber: Dok. Baraputra M.W.)

Dalam perjalanan menuju Hargo Dalem setelah meninggalkan Sendang Drajat, pendaki akan melewati Kesatriyan, toponim yang berarti tempat tinggal para prajurit, yang tertutupi tembok dan tangga kuno. Namun, kini di lokasi tersebut telah dibangun sebuah pendopo yang kondisinya sudah mulai doyong. Sebenarnya, untuk mencapai Hargo Dumilah pendaki dapat memilih jalur tanpa melewati Kesatriyan, akan tetapi jalur itu lebih panjang.

Tangga Kuno di Situs Kesatriyan. (Sumber: Dok. Baraputra M.W.)

Jalur Kelima

Jalur kelima adalah Jalur Singolangu. Di jalur ini saya menemukan arca lingga dan watu lapak yang dipercaya menjadi tempat bersemadinya Prabu Brawijaya V. Keduanya terletak di antara Pos 1 dan Pos 2. Jalur ini cukup sepi. Sering kali terdapat ayam hutan dan kera yang berkeliaran di antara rerumputan dan hutan lumut yang lebat. Yang menarik, di Pos 4, ada taman bunga Edelweiss yang tingginya lebih dari 2 m. Ketika musim kemarau tiba, kelopak-kelopak dengan warna putih, kuning, dan ungu bermekaran di taman ini.

Watu Lapak di Jalur Singolangu. (Sumber: Dok. Baraputra M.W.)

Di ujung dari semua jalur, dengan pendakian 10-30 menit pendaki akan tiba di teras bawah Hargo Dumilah. Rupanya, Puncak Lawu juga berbentuk teras dengan tiga tingkatan yang dihubungkan dengan tangga kuno. Dari penuturan ayah saya yang dahulu mendaki Lawu di tahun 1980-an, teras-teras di Hargo Dumillah benar-benar tampak, tidak seperti sekarang yang tertutupi semak belukar.

Di puncak lain, yakni Hargo Puruso, dengan berjalan pendaki dapat menjumpai Situs Kahyangan. Situs ini dapat ditempuh dari Hargo Dalem, turun menuju Pasar Dieng, dan berjalan terus ke arah Hargo Puruso. Situs Kahyangan berbentuk teras batu dengan tujuh sampai delapan lantai dan disekat oleh tembok batu. Pada teras paling tinggi terdapat pondasi batu sebagai tempat menaruh sesajen.

Pondasi Batu di Situs Kahyangan. (Sumber: Dok. Baraputra M.W.)

Dari Puncak Hargo Puruso, di antara pondasi-pondasi batu yang tersusun dan suasana sunyi, saya rasa selepas pendakian ini saya akan melihat Lawu sebagai entitas yang kompleks, tidak hanya agung tapi juga sakral dan sarat sejarah. 

***

Orang bisa saja berdebat tentang keabsahan sejarah yang datang dari Lawu, terutama perihal cuplikan Majapahit yang diwakili oleh kisah Prabu Brawijaya V. Namun, hal tersebut tetap tidak mengurangi rasa takzim yang penuh pada Lawu, gunung yang letaknya hanya sepelemparan batu dari rumah saya di Kabupaten Karanganyar, sekaligus gunung yang pada tiap lekukan dan lembahnya menjadi saksi atas rupa-rupa peristiwa sejak ratusan tahun yang lalu. Lawu menjadi tempat di mana sejarah terkunci dalam sebuah bentang alam. Kunci itu terbuka bagi anak-anak tiap zaman yang menyempatkan diri untuk berkunjung, berziarah dalam laku pendakian.

***

Baraputra M.W.

Biasa dipanggil Bara, pemuda 22 tahun kelahiran Kabupaten Karanganyar ini sudah tertarik dengan kegiatan luar ruangan semenjak bangku kuliah. Kerap menghabiskan waktu di akhir pekan untuk mendaki ketika tidak ada kelas. Kegiatan ini dilakukan hingga menginjak dunia kerja. Gemar membuat catatan perjalanan melalui sorotan dan video blog pada media sosial miliknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: