Merawat Kearifan Lontar di Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban

Ada satu hal yang menurut saya unik dan tidak pernah saya temui di museum lain. Koleksi naskah lontar yang ada Museum Pustaka Lontar ini rupanya bukan milik museum. Masyarakat lah yang menitipkan lontarnya untuk dirawat dan dikonservasi.

Penulis: Yori Akbar Setiyawan | Penyunting: Salma FK & Tyassanti Kusumo

Bila mendengar kata lontar, hal yang mungkin terlintas di pikiran adalah media penulisan yang digunakan oleh masyarakat Nusantara dahulu kala. Bisa juga terbayang sekumpulan benda kuno bertulis yang kini hanya bisa dilihat di museum dan perpustakaan. Akan tetapi tahukah kalian bahwa di Bali, tradisi penulisan lontar masih hidup dan berkembang hingga saat ini?  

Terletak 70 km jauhnya dari kota Denpasar, tepatnya di Kabupaten Karangasem, berdiri sebuah museum sederhana yang  menyimpan kekayaan tradisi Bali. Itulah Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban. Museum ini adalah museum komunitas yang didirikan atas prakarsa masyarakat Desa Adat Dukuh Penaban pada tahun 2017. Keberadaannya merupakan bentuk kepedulian masyarakat Dukuh Penaban akan pelestarian naskah lontar Bali. 

Berkunjung ke museum ini menghadirkan  kesan yang berbeda. Pasalnya, Museum Pustaka Lontar berada tengah pedesaan. Dukuh Penaban, dikelilingi oleh hutan bambu dan perkebunan warga. Pemandangan  Gunung Agung dan udara yang sejuk menambah eloknya suasana. Rasanya seperti bukan mengunjungi museum.

Sedikit cerita, saya berkunjung ke Museum Pustaka Lontar pada bulan Juni 2021. Kesempatan ini saya dapatkan dalam rangka mengikuti program Bali Art & Heritage Conservation Internship Program #BAHCIP1 yang diselenggarakan oleh Konservaction untuk mengenalkan warisan budaya dan seni Bali beserta konservasinya kepada generasi muda. 

Memasuki museum ini, saya  disambut dengan bangunan-bangunan berarsitektur tradisional Bali yakni pol-polan. Bangunan ini terbuat dari tanah liat yang dipadatkandan beratapkan jerami. Kompleks museum seluas ± 1.5 hektar ini terdiri dari beberapa bangunan, yaitu Bale Sangkul Putih sebagai tempat pertemuan dan penyambutan, Bale Daja sebagai ruang koleksi, Pawargan atau dapur, amphitheater sebagai tempat pertunjukkan dan yoga, serta tegalan yang ditanami sayur dan tanaman rempah. 

Menurut Pak I Nengah Suarya, Kepala Museum Pustaka Lontar, bangunan-bangunan di museum telah berusia ratusan tahun. Awalnya kompleks ini digunakan sebagai tempat tinggal pendeta dan pemangku adat Dukuh Penaban. Karenanya, aspek historis melekat kuat pada Museum Pustaka Lontar.

A picture containing grass, tree, outdoor, building

Description automatically generated
Pintu masuk Museum Pustaka Lontar (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Museum Pustaka Lontar mengoleksi lebih dari 700 cakep (bundel) naskah lontar dengan tema yang beragam. Museum ini tidak hanya mengoleksi naskah lontar “lama”, tapi juga naskah lontar “baru”, salinan naskah lontar, maupun teks alih aksara dan alih bahasa naskah lontar Bali. 

Bale Daja, bangunan tempat menyimpan koleksi naskah lontar di Museum Pustaka Lontar. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Koleksi pada museum ini diperoleh dari Dukuh Penaban dan sekitarnya. Perlu diketahui bahwa masyarakat Bali hingga saat ini masih banyak memiliki cakep lontar yang merupakan warisan turun-temurun keluarga. Salah satu program Museum Pustaka Lontar adalah penyelamatan dan registrasi naskah lontar milik masyarakat. Naskah lontar yang ada dimiliki masyarakat Dukuh Penaban dan sekitarnya akan didata, sekaligus dilihat kondisinya. Jika kondisinya rusak dan rapuh, maka akan dilakukan penanganan oleh tim museum.

“Sebagian besar masyarakat masih menganggap sakral lontarnya, tapi sebenarnya mereka ngga tahu isinya. Karena kepercayaan itu, banyak lontar yang ngga boleh dibuka, kalau mau buka harus upacara segala macam tapi banyak yang pas dibuka ternyata kondisinya sudah rusak, lapuk, bahkan hancur. Disitu kami sangat miris”, terang Bu Rika, penyuluh bahasa Bali. 

Ada satu hal yang menurut saya unik dan tidak pernah saya temui di museum lain. Koleksi naskah lontar yang ada Museum Pustaka Lontar ini rupanya bukan milik museum. Masyarakat lah yang menitipkan lontarnya untuk dirawat dan dikonservasi. Sehingga sewaktu-waktu dapat dikembalikan lagi pada pemilik aslinya. Praktik ini menurut saya sangat cocok. Mengingat Museum Pustaka Lontar adalah museum komunitas yang dikelola oleh masyarakat dan koleksinya pun milik masyarakat. Museum memposisikan dirinya sebagai “pelayan dan perawat” warisan budaya yang dimiliki oleh komunitas. Alhasil,kegiatan yang dilakukan ditujukan kembali untuk masyarakat. 

Konservasi koleksi naskah lontar dilakukan secara berkala setiap 2-6 bulan sekali. Langkah  konservasi yang dilakukan meliputi: pembersihan dari debu dan jamur, pengawetan naskah, dan penebalan kembali aksara yang telah hilang. Upaya ini bukan hanya dilakukan pada koleksi naskah lontar yang ada di museum. Museum Pustaka Lontar membuka Klinik Lontar, yaitu jasa konservasi lontar bagi masyarakat yang ingin mengkonservasi lontarnya. 

A picture containing person, table, indoor

Description automatically generated
Kegiatan konservasi naskah lontar (Sumber: Dokumentasi M. Alex Arifani)

Bagi saya, pengalaman yang paling berkesan di Museum Pustaka Lontar adalah mengenal cara pembuatan lontar dan menulis di atas lontar. Di museum ini dikenalkan bagaimana proses mempersiapkan lontar dari mulai pemilihan daun tal (ron tal) yang bagus, pembersihan, perebusan lontar, sampai lontar siap untuk dijadikan media tulis. Sedikit fakta, untuk membuat lontar yang bagus, kuat, dan lentur dibutuhkan waktu hingga 2-3 tahun lamanya. Kami juga  diajak belajar menulis aksara Bali di atas lontar menggunakan pisau pangrupak, pisau khusus untuk menulis di atas lontar. Hasilnya pun dapat dibawa pulang sebagai buah tangan. 

Kegiatan menulis di atas daun lontar, atau nyurat lontar (Sumber: Dokumentasi M. Alexander Arifani)

Kegiatan-kegiatan di Museum Pusaka Lontar adalah salah satu cara untuk melestarikan eksistensi lontar Bali. Edukasi disampaikan dengan cara memperkenalkan dan mempelajari lontar, hingga mempraktikkan tradisi penulisannya. Inilah daya tarik utama Museum Pustaka Lontar yang sekaligus dapat meningkatkan pemahaman dan apresiasi kita terhadap warisan budaya yang masih ada.  

Sebagai museum berbasis komunitas, semua program yang dilakukan oleh Museum Pustaka Lontar direncanakan, dikelola, dan dilaksanakan oleh masyarakat. Tentunya juga dibantu oleh akademisi, pemerintah, dan pihak swasta. Operasional pengelolaan museum pun diperoleh dari masyarakat Desa Adat Dukuh Penaban sendiri dengan sokongan  sumbangan dari pengunjung. Hal ini memperlihatkan keseriusan masyarakat Desa Adat Dukuh Penaban untuk melestarikan dan mengembangkan warisan budaya yang masih hidup sampai saat ini, yaitu naskah lontar, melalui museum. 

Seperti yang selalu dikatakan oleh Kepala Museum Pustaka Lontar, Pak I Nengah Suarya, bahwa tujuan utama pembangunan museum ini adalah pelestarian warisan dan budaya leluhur Bali sehingga segala kegiatan didasarkan akan tujuan tersebut. Museum ini juga diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi melalui wisata budaya. 

Menurut saya, Museum Pustaka Lontar dapat dijadikan contoh bagi daerah-daerah di Indonesia. Dari sini saya belajar, bahwa living heritage, warisan budaya dan tradisi yang masih berkembang di Indonesia saat ini dapat terus lestari jika masyarakat bersama-sama menjaganya. Terlepas dari masalah pengelolaan dan pembiayaan, museum berbasis komunitas seperti Museum Pustaka Lontar merupakan salah satu cara pelestarian yang sesuai karena semangat pelestarian timbul dari masyarakat sendiri sebagai pemilik warisan budaya tersebut, serta masyarakat juga memahami seluk beluk dan nilai penting dari warisan budaya tersebut. Tentunya, kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak terutama pemerintah dan akademisi dalam pengembangan Museum Pustaka Lontar menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. 

Walaupun masih banyak yang harus dibenahi dan dilakukan, harapan saya semoga visi Museum Pustaka Lontar untuk menjadi pusat pembelajaran dan pelestarian lontar Bali dapat terwujud, serta museum ini dapat memberikan inspirasi bagi banyak orang untuk senantiasa melestarikan budaya yang ada.

***

1 BAHCIP (Bali Art & Heritage Conservation Internship Program) merupakan program yang didanai oleh pemerintah Australia melalui AGS (Australian Alumni Grant Scheme) yang dikelola oleh Australia Awards #AusAwards #OzAlum

BAHCIP (Bali Art & Heritage Conservation Internship Program) is generously funded by the Australian Government through Australian Alumni Grant Scheme AGS and administered by Australia Awards in Indonesia #AusAwards #OzAlum

***

Yori Akbar Setiyawan adalah mahasiswa Arkeologi asal Cirebon yang tertarik dengan aksara kuno dan sedang mencoba mendalaminya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: