Saya Bisa Diganggu Kapan Saja..

Obituari “lancang” seorang murid untuk gurunya.

Penulis : Yogi Pradana | Penyunting : Sandy Maulana

Jumat 18 September 2020, saya baru saja pulang selepas bertakziah dari rumah duka Pak Djoko di Purwomartani, Kalasan. Saya membaringkan tubuh sebentar; menyalakan laptop; dan membuka folder yang berisi memori saya dengan Beliau di tahun 2016. Ada perasaan tidak pantas yang muncul mengingat saya yang mendaku diri sebagai murid tidak bisa banyak mengingat pengalaman-pengalaman yang patut dikenang selama berinteraksi dengan almarhum.

Telah menjadi sebuah kelaziman bahwa obituari biasanya ditulis oleh teman atau minimal kolega dekat almarhum selama hidup. Sedangkan, yang pantas untuk dilakukan oleh seorang murid, menurut saya, adalah memperbanyak bersyukur dan menggumamkan terima kasih dalam wujud doa tak henti-henti.

Ketidakajegan psikologis yang saya alami—saya istilahkan saja seperti itu—membuat saya dua kali menyalakan dan mematikan gawai dalam waktu kurang dari 30 menit. Saya tidak bisa menjelaskan kondisinya. Ingin menulis. Pudar. Berani kembali. Urung.

Bersamaan dengan beberapa status Facebook tentang beliau yang saya baca sore itu hingga kira-kira bakda Isya, saya menghubungi beberapa teman. Sekadar mengenang cerita-cerita yang luput dari memori tentang almarhum semasa hidup—sebenarnya lebih banyak untuk membangun niat dan keberanian, sih.

Hingga kemudian saya mengirim pesan singkat ke Tyassanti, adik tingkat saya di Jurusan Arkeologi, yang entah sedang ngapain di Perancis sana.

“San, bikin tulisan obituari untuk Pak Djoko, yuk.”

***

Saya buka file disertasi yang tanpa izin saya salin dari diska lepas Beliau ke memori laptop 2016 silam dan memfotonya untuk Santi—saya yakin belum banyak yang pernah membaca disertasi itu.

Sebagai pengajar senior di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, mungkin disertasi itu terbilang telat. Baru pada tahun 2016 karya doktoral beliau selesai—dan langsung disalin tanpa izin oleh salah satu muridnya yang kurang ajar.

Seperti yang diketahui banyak orang, kesibukan beliau di banyak tempat membuat pencapaian pribadi seakan dikesampingkan. Beliau mungkin sadar intelektualitasnya dibutuhkan tidak hanya di dalam kampus.

Saya jadi teringat istilah Antonio Gramsci tentang intelektual organik, intelektual yang tidak terlalu sibuk dengan meritokrasi gelar akademik, tapi di sisi lain banyak mencurahkan pemikirannya di ranah kemasyarakatan untuk membangun dan tumbuh memperbaiki kebijakan publik. Tak terlalu berlebihan sepertinya mengatakan beliau sebagai seorang guru yang saya dan banyak orang lain butuhkan.

***

Pagi, 21 Maret 2016, saya ingat persis itu hari Sabtu. Saya mempersiapkan sebuah focus group discussion (FGD) untuk acara rutin Dewan Kebudayaan Yogyakarta di Pendopo Gamelan bersama Mbak Ade, kakak tingkat saya di Jurusan Arkeologi.

Pak Djoko waktu itu telah menjadi ketua Dewan Kebudayaan Yogyakarta. Ia  seharusnya beristirahat karena itu hari libur dan kondisi kesehatannya saya dengar sedang kurang baik. Namun yang terjadi, beliau bersedia menjadi pembicara.

Lantas saya diberi kabar singkat. Beliau sudah tiba dan menunggu di dalam mobilnya. Sontak saya bergegas menjemput beliau. Keluar dari mobil, saya refleks memegang tangannya untuk membantu berjalan.

“Saya mau sekalian belajar jalan saja, acaranya di ruang belakang ya?”, tanya beliau.

Pertanyaan itu sedikit saya acuhkan. Saya balik bertanya perihal kesehatan beliau menggunakan bahasa Jawa. Pak Djoko tersenyum sambil berjalan. Saya mengarahkannya menuju kursi di ruang tengah.

Kedatangan beliau mengejutkan beberapa tamu undangan. Ruang tengah seketika dipenuhi ramah-tamah yang kental dengan rasa segan kepada beliau. Saya ingat waktu itu beliau meminta untuk menyampaikan presentasi sambil duduk. Semua undangan sepakat dan acara berjalan sebagaimana mestinya. 

Setelah acara berakhir, saya mengantar beliau menuju mobilnya. Beliau berpamitan sambil mengangguk dan melontarkan senyum. Dalam hati saya dan mungkin beberapa yang ikut ndherekke Beliau pulang semuanya serentak bergumam, sehat-sehat, Pak.

Situasi hormat karena segan seperti itu tidak hanya terjadi sekali karena acara Dewan Kebudayaan Yogyakarta yang sudah terjadwal setiap bulan. Di banyak kesempatan memang Pak Djoko tidak bisa hadir, tapi di waktu-waktu beliau yang lebih longgar, beliau senantiasa menyempatkan ikut menyimak FGD.

Saya ingat suatu waktu FGD diadakan di malam hari dan secara lesehan. Pak Djoko hadir. Kesehatan beliau sudah membaik, pikirku, ketika melihat tak ada masalah bagi beliau untuk duduk bersila sepanjang acara.

Jangan mengharapkan pembicaraan yang ‘intim’ antara saya dengan Pak Djoko, selain kami lebih banyak berbincang soal kegiatan di Dewan Kebudayaan Yogyakarta. Saya juga sangat menjaga sikap dan tutur kata ketika berinteraksi dengan beliau.

Dari percakapan biasa-biasa kami, ada satu kata-kata beliau yang betul-betul saya ingat :

“Saya bisa diganggu kapan saja.”

Ucapan itu tentu dimaksudkan untuk memudahkan kerja-kerja saya di Dewan Kebudayaan Yogyakarta.

Pernah sekali atau dua kali waktu, akibat kebingungan yang benar-benar kusut, saya sowan ke kediaman beliau di Purwomartani. Pembawaan santai dan rendah hati Pak Djoko saya rasakan lekat dan dekat sekali. Di tengah kebingungan saya, beliau  ibarat air yang mematikan bara api.

Hanya karena bara itu mati, tungku di atasnya yang entah memasak apa jadi terlambat dihidangkan. Bukan sepenuhnya salah beliau, tapi lebih karena kelalaian saya saja dalam mengerjakan tugas. Toh, semuanya berjalan sesuai rencana dan beres. Saya sudah meminta maaf soal itu saat berpamitan di akhir masa tugas.

***

Seorang murid sudah sewajarnya memiliki kekaguman tertentu kepada gurunya. Dan karena kekaguman itu, di akhir masa kuliah yang terburu-buru, saya merasa perlu melegakan diri dengan mengonsultasikan draf pertama proposal skripsi saya ke Pak Djoko. 

Ada perasaan lega yang tumpah ketika Beliau ngendikan, “bisa ini, Mas.” Maksudnya tentu proposal skripsi saya bisa lanjut dikerjakan. Sambil mencukupkan konsultasi buru-buru itu, saya pamit keluar dari ruangan beliau dengan mental prajurit yang siap berangkat ke medan perang. Jangankan Kurusetra sebagai Bima, perang Badar pun sedia-sedia saja saya lakoni.

***

Pada 15 November 2018 di Bandung, beliau duduk sebagai pembicara pada sebuah seminar. Mungkin banyak yang setuju, Pak Djoko adalah idola dalam tiap seminar. Disadari atau tidak, materi dan cara Beliau menyampaikan presentasinya pasti mengundang banyak penanya–indikasi pembicara yang paripurna. Singkat cerita, di Bandung waktu itu —dengan situasi saya sudah lama tidak berbincang dengan beliau. Beliau telah selesai dengan presentasinya dan akan menikmati waktu coffee break.

Tidak dinyana banyak peserta seminar lain-–waktu itu adalah para guru sejarah– menghampiri Beliau, sudah seperti wartawan yang menunggu satu-dua patah kata dari sumber kunci. Saya sadar pada saat itu beliau adalah sentral. Saya yang harus menghampirinya untuk sekadar mencium telapak tangannya dibuat kaget dengan tarikan tangan beliau, beliau menarik lalu merangkul saya. Mungkin trik agar mengalihkan perhatian para peserta lain. “Ini teman saya ini, di Jogja”. Saya yang tidak siap hanya diam saja. Akhirnya, saya mencoba membantu menyibak kerumunan itu agar beliau dapat lekas menuju tempat kudapan di pojok ruangan. Benar belaka jika beliau adalah orang yang penuh siasat, cerdik, humoris dan tentu pintar. Semoga ada yang menuliskannya lebih lengkap dari tulisan ini.

Kebahagiaan membersamai orang-orang baik. Adalah kenikmatan luar biasa bisa mendapatkannya dari seorang guru. Dari sini saya baru menyadari alasan para siswa masa lalu untuk tinggal menyepi bersama gurunya di hutan, juga para santri di pondok pesantren yang begitu takzim dan hormat kepada kyainya. Maknanya adalah akhlak kepada guru. Dalam laku belajar, akhlak kepada guru adalah inti dari ilmu itu sendiri. Mengenang ilmu adalah mengenang rasa cinta dan kenikmatan luar biasa saat bersama guru tercinta.

Manusia tidak akan pernah tahu tentang masa depan, sebagaimana juga alpa mengerti tentang masa lalu. Buku sejarah telah memberikan jutaan kisah tentang cinta dan kebahagiaan, beriringan dengan jutaan tragedi dan kesedihan. Hingga tiba hari Jumat pagi itu, yang membuat saya-–dan kita semua yang membaca tulisan ini, kalaupun diunggah, tidak akan pernah bisa lagi memperoleh kesempatan membersamai beliau.

Sebagai penutup, saya ingin berbagi. Saya baru saja membaca sebuah buku yang di dalamnya memuat kutipan dari seorang pendidik, yaitu J. Sumardianta :

“Di zaman ini, kebutuhan murid kepada gurunya bukan lagi knowledge, melainkan wisdom. Lha kalau cuma pengetahuan, wong lewat Google, lewat Wikipedia, mereka dengan gampang mengakses pengetahuan, kok. Mereka hanya butuh wisdom. Kearifan.”

8 Desember 2016, Pak Djoko memberikan foto selfie-nya ini ketika saya meminta pas foto untuk profil anggota Dewan Kebudayaan DIY.
Sungguh orang yang solutif!


Tentang Penulis

Yogi Pradana
Bakul buku di @kandank_buku yang siap menambal kesedihanmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: