Mengenang Sosok: Laku dan Karya Djoko Dwiyanto

Selama ini, Djoko memang dikenal sebagai sosok yang hangat, tenang dan penuh solusi, sebuah perpaduan yang membuat sosoknya lekas mendapat tempat dalam ingatan semua orang yang pernah mengalami perjumpaan dengan dirinya.

Penulis: Tyassanti Kusumo

Barangkali 2020 memang menjadi tahun yang pelik, segala hal yang mulanya normal terjadi, kini seakan diberi porsi yang berlebih. Kematian adalah keniscayaan, namun di tahun ini begitu banyak kabar duka mendera. Air mata belum sempat mengering, pun letih yang terpulihkan penuh.

Pekan lalu (18/9), kabar duka datang dari salah satu senior di bidang Arkeologi, Dr. Djoko Dwiyanto, M.Hum atau yang akrab disapa Pak Djoko oleh kolega dan murid-muridnya. Beliau tutup usia dengan meninggalkan banyak kesan dan sepak terjang yang tidak bisa dipungkiri nyata adanya.

Bila kita sepakat untuk menilik kewajiban civitas academica, yakni menjalankan tiga kewajiban (Tri Dharma) perguruan tinggi: pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan serta pengabdian kepada masyarakat, tentu Djoko Dwiyanto telah memenuhi ketiganya. Bahkan, di samping keaktifan dalam menggelar tugas-tugas yang berkaitan dengan perguruan tinggi dan dunia akademik, beliau sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial dan struktural. Namanya tentu sudah tak asing lagi di kalangan para seniman keroncong. Bagaimana tidak, sejak 2009 hingga sebelum wafat, beliau masih menjabat sebagai Pembina Himpunan Artis Musik Keroncong (HAMKRI) wilayah DIY. Tentu bukan sekadar aji mumpung atau kebetulan, tapi memang Djoko sedari dulu telah aktif dan menggandrungi dunia seni keroncong.

Dua tahun lalu, persisnya 6 Maret 2018, bertepatan dengan acara Seminar Nasional Epigrafi di University Club UGM, digelar peluncuran dan diskusi buku “Refleksi Penelitian Epigrafi dan Prospek Pengembangannya” yang bisa disebut sebagai monumen pemikiran Djoko terhadap bidang ilmu yang mengawali kariernya sebagai akademisi, sekaligus menandai 36 tahun kiprah dan pengabdian sebagai pengajar Departemen Arkeologi UGM. Dalam acara tersebut, sebagai penutup diskusi dan perpisahan, Djoko melantunkan beberapa tembang keroncong. Suara apik disertai emosi yang turut terlantun tak ayal membuat hati para hadirin bergetar. Momen yang sungguh turut andil dalam munculnya berbagai kenangan serta emosi dari kolega dan murid-murid. Selama ini, Djoko memang dikenal sebagai sosok yang hangat, tenang dan penuh solusi, sebuah perpaduan yang membuat sosoknya lekas mendapat tempat dalam ingatan semua orang yang pernah mengalami perjumpaan dengan dirinya.

Mengawali karier sebagai pengajar sejak awal 80-an, minat penelitiannya terbentang mulai dari epigrafi, arkeologi masa klasik, museologi dan filoarkeologi. Beberapa judul penelitian yang sempat beliau kerjakan antara lain :

1. Beberapa Masalah Transportasi di Jawa Tengah pada Masa Pemerintahan Balitung (tahun 899-910 M) : skripsi sarjana muda (UGM, 1981).

2. Pengaruh Unsur Penanggalan Prasasti dalam Perhitungan Musim pada Masa Pemerintahan Mpu Sindok di Jawa Timur (laporan penelitian UGM, 1989/1990).

3. Pungutan Pajak dan Pembatasan Usaha di Jawa pada Abad IX-XV Masehi (laporan penelitian UGM,1992). Disusun bersama Dr. Riboet Darmosoetopo, Drs. JSE Yuwono dan Dra. DS Nugrahani.

4. Sejarah Lahirnya Kabupaten Purbalingga (kerja sama Pemda Dati II Kab. Purbalingga dengan Lembaga Pengabdian Masyarakat UGM, 1997)

5. Saudagar Jawa. Runtuhnya Kota Pelabuhan Jepara pada Awal Abad ke-18 (Pustaka Raja, 2002).

6. Interpretasi terhadap Komoditas dalam Prasasti Jawa Kuna abad VIII – X M: Sebuah Kajian Fungsi dan Distribusinya (Penerbit Kaliwangi, 2016).

Tentu masih banyak lagi karya-karya beliau yang terkait dengan minat risetnya, namun begitu, barangkali fakta bahwa Djoko turut menaruh perhatian pada kebudayaan dan kehidupan masyarakat Jawa masih sedikit tersingkap bagi publik. Selain aktif membina kelompok Kethoprak Mataram wilayah DIY sejak 2012 hingga tahun ini, Djoko juga banyak menelurkan pemikirannya dalam karya tulis yang mengulas tentang hal tersebut. Berikut beberapa karya beliau:

1. Intisari Kebatinan Jawa, Yogyakarta: Ampera Utama, cetakan ketiga, Maret 2018. (ed: Ign. Gatut Saksono).

2. Terbelahnya Kepribadian Orang Jawa, Yogyakarta: Keluarga Besar Marhaenisme DIY, 2011.

3. Bangkitnya Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME. Hasil Studi di Daerah Istimewa Yogyakarta, Yogyakarta: Penerbit Ampera Utama, Cetakan II, Juli, 2011.

4. Puro Pakualaman. Sejarah, Kontribusi dan Nilai Kejuangannya. Yogyakarta: Paradigma Indonesia, 2010.

5. Kraton Yogyakarta. Sejarah, Nasionalisme dan Teladan Perjuangan. Yogyakarta: Paradigma Indonesia, 2009.

6. Ensiklopedi Serat Centhini. Yogyakarta: Panji Pustaka, 2008.

7. Cokro Manggilingan. Konsep Hidup Jawa untuk Mencapai Ketenteraman Lahir Batin. Yogyakarta: Gelombang Pasang, 2006 (ditulis bersama Purwadi).

Sepak terjang tak hanya berada di atas kertas, telah banyak dimensi ruang yang Djoko jajaki untuk menyebarkan ilmu dan kearifan yang tersemat padanya. Melalui aneka seminar dan kunjungan, pemikiran serta semangatnya telah menginspirasi banyak pihak dan menyukseskan berjalannya suatu gelaran. Tak heran, selain aktif di dunia akademik dan sosial, sosoknya pun berani terjun langsung di dunia struktural penuh birokrasi, sesuatu yang sangat jarang diemban dan dipilih oleh seorang akademisi. Kemampuan berkomunikasi, tenang pikir dan kharismanya mampu mengeksekusi sekian program kerja dan aneka kebijakan yang harus dilakukan dalam satu periode masa kerja. Pada 2008 hingga 2011, Djoko didapuk untuk menjadi Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, disusul selanjutnya menjadi Ketua Dewan Kebudayaan DIY (2014-2018). Bahkan, Agustus lalu, beliau baru saja dilantik kembali sebagai Pengurus Dewan Kebudayaan DIY masa bakti 2020-2022 di tengah aktivitasnya sebagai Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Sleman periode 2020.

Terbiasa dengan padatnya aktivitas dan sekian banyak hal yang harus dipikirkan serta diatur dalam waktu yang kurang lebih bersamaan, membuat sosok Djoko dikenang sebagai priyayi yang selalu aktif dan berdedikasi tinggi pada tiap tanggung jawab yang diemban. Meski begitu, kesan kaku dan berjarak hampir tak ditemui darinya. Djoko tak segan diganggu barang 10-15 menit oleh para murid atau kolega yang sekadar ingin bertemu dan bertukar pikiran, baginya, semua orang berhak didengar, dan tak ada pendapat yang terlalu buruk untuk dipertimbangkan.

Selamat jalan bapak dan guru kami, kehidupan dan kebahagiaan yang abadi telah datang membebaskan. Al-Fatihah.

***

*Ucapan terima kasih kepada Danang Indra Prayudha dan Afifah Sholihah yang telah membagikan cerita dan kilasan pengalaman bersama Almarhum. Tanpa bantuan mereka berdua, tulisan ini tidak akan bisa menangkap banyak perjumpaan personal yang hangat dan detail.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: