What the Epigraphists Don’t Talk About When They Talk About Their Works

dharmma srī mahārāja
Candi Plaosan Lor (cr : Salma FK)

Apakah ini saatnya untuk mulai membicarakan apa yang tidak jamak kita bicarakan?

Penulis : Tyassanti Kusumo | Editor : Sandy Maulana

Kerja-kerja terhadap bidang kepurbakalaan di Indonesia sebetulnya bisa ditarik berpuluh tahun sebelum didirikannya Oudheidkundige Dienst atau Jawatan Purbakala di Hindia Belanda pada 1913. Catatan-catatan perjalanan seputar reruntuhan candi, penemuan tulang, dan alat batu telah banyak digagas oleh, katakanlah, Raffles (History of Java, 1817), Mackenzie (A Collection of Monuments, Images, Sculptures & Illustrative of the Ancient History, Religion & Institutions of the Island of Java & of the Adjacent Isles, 1811-1812), dan Rumphius (D’Amboinsche Rariteitkamer, 1750).

Ketika menulis kumpulan laporan perjalanan itu, tentu belum ada upaya penyelidikan lanjut, apalagi dengan metode yang runtut, sehingga boleh dikatakan bahwa tonggak penelitian dan kerja purbakala Indonesia dimulai pada awal abad ke-20. Ada bermacam tinggalan kepurbakalaan yang kemudian menjadi fokus seperti candi dan aneka alat batu serta prasasti.

Tiap bidang memiliki ahlinya masing-masing, dan kadang kala saling silang, seperti misal penyelidikan tentang candi yang akan bertautan dengan prasasti. Beberapa yang sering disebut ketika frasa prasasti mencuat ialah N.J Krom, J.L.A Brandes, W.F. Stutterheim, G. Coedes, Louis Charles Damais, J.G de Casparis, C.C Berg, F.D.K Bosch, van Stein Callenfels, R. Poerbatjaraka, Boechari, Soekarto K. Atmodjo, A.S Wibowo, Ketut Ginarsa, R. Pitono, dan Machi Suhadi. Mendekati abad ke-21, muncul nama-nama baru seperti Titi Surti Nastiti, Ninie Susanti, Tjahjono Prasodjo, dan Mimi Savitri. 

Nama-nama mereka kerap pula muncul dalam penyelidikan mengenai pengaruh kebudayaan India (Asia Selatan) di Asia Tenggara. Barangkali topik tersebut memang menggelitik, terutama karena wilayah Asia Tenggara mengalami pengaruh arus kebudayaan India dalam kurun waktu hampir bersamaan. Topik yang sama, hingga hari ini masih terus dikerjakan oleh para arkeolog yang memfokuskan dirinya pada tinggalan prasasti. Secara spesifik, mereka disebut sebagai epigraf, atau ahli yang menggeluti tulisan tua.

Lambat laun, epigrafi menjadi satu bidang yang sahih dan menginduk di bawah tema arkeologi (bisa dipastikan karena objek telaahnya adalah material remains dan berasal dari masa lalu). Telah ada banyak pembacaan terhadap aneka prasasti, baik yang ditulis pada batu maupun lempengan logam. Prasasti secara khusus juga diakui sebagai tulang punggung sejarah Indonesia Kuno (Casparis, 1954 dalam Suarbhawa, 2000). Bagaimana tidak, sejauh penelusuran mengenai ‘definisi’ prasasti, sepertinya semua ahli sepakat bahwa prasasti adalah satu putusan kerajaan, atau piagam resmi yang ditulis dalam kaidah-kaidah tertentu dan dikeluarkan oleh pihak berotoritas, seperti raja dan pejabat.

Membawa pengertian dan misi yang begitu penting, nampak ada beberapa hal yang luput, atau setidaknya, sampai sejauh ini jarang dijadikan topik bahasan maupun perenungan oleh para Epigraf. Apakah itu? Kurang lebih tersari dalam pokok-pokok sebagai berikut:

1. Upaya mendedah kembali objek kajian Epigrafi, dalam hal ini prasasti. Sejak kapan istilah prasasti sepakat digunakan untuk menyebut seluruh objek kajian epigrafi?

Barangkali hal ini bisa ditelusur dari jamaknya kata prasasti ditemui dalam ‘prasasti’ itu sendiri. Seperti misal dalam Prasasti Kusambyan, yang menulis sebagai berikut:

14. kabeḥ. de śrī mahārāja makaciḥna ri samaŋhyaŋ wineḥ makmitana saŋhyaṅ=ājñā haji prasasti

14. semua. Oleh Śrī Mahārāja yang dipuja itu ditandai [dengan] diberi pelindung [berupa] saŋhyaṅ=ājña haji prasasti
(Sisi depan baris ke-14. Nastiti, 2013 dalam Jurnal Amerta)

Sebelum lebih jauh lagi, istilah prasasti yang berasal dari bahasa Sansekerta dapat diartikan sebagai berikut: pra (adverbium: mendekati) dan sasti berarti pernyataan, pengetahuan, perintah yang ditujukan kepada orang lain (Williams, 1960 dalam Suarbhawa, 2000). Sehingga, nampak bahwa apa yang menjadi objek kajian para epigrafi seakan diambil begitu saja dari definisi prasasti secara etimologi. 

Sementara, pandangan seperti itu tentu menjadi istana-sentris. Memang, banyak prasasti, baik yang ditulis pada batu maupun logam dikeluarkan oleh pihak berotoritas. Namun, penemuan-penemuan terbaru menentang pernyataan tersebut, yakni dengan adanya prasasti-prasasti yang berasosiasi dengan lingkungan keagamaan, non istana-sentris, baik dalam kaidah, aksara dan isi. Sehingga penting adanya untuk menjadikan poin ini sebagai wacana baru yang harus segera dibicarakan, yakni nggenahke, memastikan lagi apa yang sebetulnya menjadi cakupan kajian, Bahkan bagaimana sebuah tinggalan tekstual diokupasi oleh epigraf. 

Pertanyaan bandel bisa saja diajukan, ‘Mengapa naskah tidak menjadi objek kajian? Kan sama-sama bertulis, ada aksara, ada bahasa dan ada media menulisnya?’ Lebih geli lagi ketika tahu bahwa penyelenggara pendidikan Arkeologi tidak menyediakan satu kelas khusus dengan materi teknis dan analitik yang bisa membekali para calon epigraf untuk turun ke lapangan (setidaknya di eks kampus saya, sih hehe). Bandingkan dengan para calon filolog yang belajar di jurusan Sastra dan mendapat teori, framework maupun pengajaran khusus tentang tata bahasa, peraksaraan dan kajian teks.   

P.s: sampe ngeces nih nulisnya karena sulit betul membuat ringkas, bisa dilanjut dengan membaca catatan yang ada di bawah, yaa. 

2.  Terlalu sering fokus pada konten, sehingga masih sedikit upaya dalam meninjau hubungan prasasti dengan media penulisannya (writing support)

Singkatnya seperti misal, asosiasi pemilihan bahan, adakah hubungan dengan kondisi alam? Diambil dari mana batuannya? (bila prasasti masih in situ) dan juga apakah ada pembedaan ‘tingkatan’ prasasti berdasar bahan atau bentuk. Kajian tipologi seperti ini masih sangat jarang dilakukan. Pun bila ada, tidak spesifik dan terasa jauh dari konteks sekitar.

3.  Meski fokus pada konten, rupanya penyelidikan peraksaraan masih jauh dari kata cukup.

Tidak semua hal tercatat dalam prasasti; terkadang penulis luput menuliskan nama tokoh ataupun periode. Hal tersebut akan menyusahkan kecuali epigraf betul lihai dalam melihat gaya pengaksaraan, yang dalam hal ini masuk dalam kajian paleografi. Kerja penyelidikan terhadap paleografi dan jenis-jenis aksara yang memenuhi prasasti, sejauh ini belum mutakhir. Monumen paleografi terakhir adalah tulisan Casparis pada 1975. Setelahnya, penelitian tersebut masih berpencar dan tampak tak ada upaya untuk segera memperbarui.

4.   Tidak menjahit data yang telah terbaca

Sampai poin ini, kita telah sadar betul bahwa prasasti ada di persimpangan antara tinggalan bendawi dan juga tinggalan tekstual untuk menyusun kronologi dan narasi yang bisa terbaca. Dengan adanya ratusan prasasti dan katalog pembacaan yang telah diterbitkan (terbaru oleh Edhie Wurjantoro , 2018), terasa minim arah. Mau dikemanakan hasil-hasil bacaan tersebut? Dan untuk menyusun apa?  Beberapa senior, seperti Ninie Susanti telah menyusun satu kronik tentang tokoh Airlangga, tetapi masih banyak tokoh dan peristiwa lain yang belum dijahit rapi. Siapa yang ingin, kapan, dan bagaimana?

Pada akhirnya, beberapa hal harus dibicarakan lagi di antara para epigraf. Entah untuk menambah alternatif pendekatan, topik pembahasan terkait isi prasasti atau yang paling sederhana namun fundamental, memutuskan, apa sebetulnya yang dikaji dan bagaimana objek kajian tersebut mampu membawa pencerahan dalam percaturan historiografi Indonesia.

***

Apakah ini saatnya untuk mulai membicarakan apa yang tidak pernah kita bicarakan? Seperti membuat gugus tugas baru dan mendobrak tatanan serta metode kerja epigrafi yang sejauh ini terasa sangat terpencar? Atau barangkali ada satu disiplin ilmu lagi yang bisa digagas dengan perhatian utama pada writing support prasasti beserta konservasinya, yang, hmm.. posisinya akan mirip-mirip seperti filologi dan kodikologi?

Hmm, mari kita lihat dan gelar lapak, tulisan ini sangat terbuka untuk balasan dan tanggapan langsung berupa aksi!

Catatan :
Dalam tulisan I Gusti Made Suarbhawa untuk jurnal Forum Arkeologi (2000), beliau menerakan ‘prasasti adalah artefak bertulis dari masa lalu yang ditulis di atas batu, tufa, berbagai jenis logam, tanah liat yang dikeringkan ataupun yang dibakar, dan benda-benda keras lainnya, yang dikeluarkan oleh raja, pejabat ataupun bukan pejabat yang tulisannya baik panjang maupun pendek’. Penjabaran yang cukup mengakomodasi karakter objek kajian epigrafi untuk kondisi hari ini. Namun, dalam proses memutuskan secara rinci, mengapa muncul ide mengenai ‘benda-benda keras lainnya’? Sementara kita tahu ada sumber yang menyebut eksistensi ripta prasasti, dengan media tulis semacam daun (cek kamus Jawa Kuno). Asumsi: ya karena yang sampai ke kita adalah karakter seperti itu. Lebih lengkap tentang perenungan ini bisa dibaca di tulisan Panciera.

Serta, yang kedua, akhir-akhir ini muncul penggunaan istilah inskripsi untuk tinggalan bertulis yang: 1) kalimatnya pendek, umumnya dijumpai di benda, arca atau sudut candi, 2) ditemukan di gunung. Aang Pambudi dalam tulisannya tentang Inskripsi Gerba I dan II (2019) dengan gamblang menyatakan bahwa dirinya sengaja menghindari penggunaan prasasti karena terlalu lekat dengan citra ‘piagam kerajaan’. Tentu hal ini adalah sesuatu yang perlu diperbincangkan dalam forum tahunan para ahli seperti Dialog Ilmiah Arkeologi (DIA), Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA), Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia (PAEI), di samping pastinya pemaparan hasil penelitian termutakhir.

Pustaka :
Nastiti, Titi Surti. 2013. “Prasasti Kusambyan: Identifikasi Lokasi Maḍaṇḍěr dan Kusambyan” dalam Amerta 31: 69-79. Jakarta: Puslitarkenas.

Nugroho, Aang Pambudi. 2019. “Inskripsi Gerba I dan II: Tinjauan Fungsi dan Peranannya dalam Tata Ruang Mandala di Gunung Semeru Abad XV Masehi” dalam Menggores Aksara, Mengurai Kata, Menafsir Makna. 99-123. Yogyakarta: Departemen Arkeologi UGM.

Suarbhawa, I Gusti Made. 2000. “Teknik Analisis Prasasti” dalam Forum Arkeologi vol.13 no.2: 135-147. Denpasar: Balai Arkeologi Bali

Penulis : Tyassanti Kusumo | Penyunting : Sandy Maulana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: