Merawat Kearifan Lontar di Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban

Ada satu hal yang menurut saya unik dan tidak pernah saya temui di museum lain. Koleksi naskah lontar yang ada Museum Pustaka Lontar ini rupanya bukan milik museum. Masyarakat lah yang menitipkan lontarnya untuk dirawat dan dikonservasi. Penulis: Yori Akbar Setiyawan | Penyunting: Salma FK & Tyassanti Kusumo Bila mendengar kata lontar, hal yang mungkinContinue reading “Merawat Kearifan Lontar di Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban”

Konsep Sīma Sebagai Alternatif Pemanfaatan Cagar Budaya

Gagasan menggunakan konsep sīma berangkat dari salah satu tujuan pengelolaan cagar budaya yaitu memberikan kesejahteraan sebesar-besarnya kepada rakyat dengan tidak mengurangi atau mengganggu nilai-nilai cagar budaya. Penulis: Perwira Utama | Penyunting: Tyassanti Kusumo & Sandy Maulana Pada masa perkembangan agama Hindu dan Buddha di Indonesia, dikenal sebuah konsep agraria yaitu konsep tanah sīma. Tanah sīma,Continue reading “Konsep Sīma Sebagai Alternatif Pemanfaatan Cagar Budaya”

Colt Kampus, Transisi Kewenangan Orde Baru dan Kisah-kisah dari Djoko Dwiyanto

“Kalau ingin sukses menyejahterakan rakyat”, kata beliau, kita harus mengikuti peribahasa: Sepi ing pamrih rame ing gawe. Jangan mau korupsi! Penulis: Dhimas Langgeng | Penyunting: Sandy Maulana Pasca pemilihan umum (pemilu) anggota DPR dan DPRD di tahun 1977 usai, berbondong-bondong mahasiswa di kota-kota besar Indonesia turun ke jalan untuk menggelar unjuk rasa. Merasa terganggu denganContinue reading “Colt Kampus, Transisi Kewenangan Orde Baru dan Kisah-kisah dari Djoko Dwiyanto”

Mencari Makam Kuno di Hutan Sentangau

Pencarian selama 10 menit akhirnya menemui titik terang. Sebuah nisan berbatu ditemukan di antara dua pohon. Penulis: Sholahuddin Al Ayubi | Penyunting: Sandy Maulana “Esok Sabtu ikut bapak, tengok batu nisan yang tumbuh seperti pohon”. Ucapan Pak Ating yang tiba-tiba jelas mengejutkanku. Memang, di sela-sela pakatan[1] warga Desa Kumba, aku, Pak Ating, dan Abang KarimContinue reading “Mencari Makam Kuno di Hutan Sentangau”

Meneroka Kemanusiaan di Pulau Galang

Semua manusia perahu tahu risiko-risiko buruk yang mungkin timbul dari eksodus, tapi mereka teguh berprinsip it’s better to drown at sea than to live under communism (Duong, 2000). Penulis: Hot Marangkup Tumpal S. | Penyunting: Sandy Maulana Beberapa bulan lalu, tepatnya Maret, saya mendengar wacana bila pemerintah Indonesia ingin membangun sebuah rumah sakit khusus untukContinue reading “Meneroka Kemanusiaan di Pulau Galang”

Melihat Sisa-Sisa Kejayaan Saudagar Penyamakan Kulit di Gresik

Pintu utama dari rumah lalu saya ketuk. Sesosok wanita berumur 70-an tahun membuka pintu. “Maaf, Pak De Noot-nya ada?” Penulis: Muhammad Faiz | Penyunting: Sandy Maulana Saat itu menjelang asar di kota Gresik yang panas. Saya baru selesai mengunjungi beberapa situs di Gresik. Memasuki gang yang dipenuhi bangunan tua bertingkat dua hingga empat, saya memarkirkanContinue reading “Melihat Sisa-Sisa Kejayaan Saudagar Penyamakan Kulit di Gresik”

Museum Pabrik Gula Tak Semanis Sejarahnya: Bagaimana Sikap Kita?

Museum merupakan artefak politis, ia tidak bebas nilai. Penulis: Irsyad Martias | Penyunting: Sandy Maulana Beberapa tahun ke belakang, berkunjung ke museum menjadi agenda rutin di berbagai jenjang institusi pendidikan. Tengok saja setiap akhir pekan atau akhir semester, museum ramai dipenuhi seragam putih abu-abu, pramuka, atau lain waktu kaos oblong dengan tulisan study tour diContinue reading “Museum Pabrik Gula Tak Semanis Sejarahnya: Bagaimana Sikap Kita?”

Refleksi Simbol di Masjid Gedhe Mataram

Perselisihan dangkal tak perlu diulang. Penulis: Ahmad Kholdun Ibnu Sholah | Penyunting: Sandy Maulana Memasuki Masjid Gedhe Mataram di Kotagede, Yogyakarta, menimbulkan perasaan yang berbeda dibandingkan kunjungan saya ke masjid-masjid lain. Melihat gapura dan pagar yang menyambut, rawan membuat siapa saja yang mampir merasa seperti berada di candi, alih-alih di masjid. Jika mendengar cerita masyarakatContinue reading “Refleksi Simbol di Masjid Gedhe Mataram”

Kampung Balapan: Sisa Euforia Pacuan Kuda yang Nyaris Tak Dikenali

Bagi orang-orang yang tinggal di Jogja pada akhir abad 19-20, pacuan kuda berarti kemeriahan. Bagi para elite, ia bermakna kebanggaan. Tapi itu dulu. Kini yang tersisa tinggal nama dan bentuk kawasannya saja. Menunggu untuk kembali menjadi perhatian. Penulis: Yustina Dwi Stefanie | Penyunting: Sandy Maulana Untungnya, pemerintah kolonial Belanda sejak 1864 melakukan kegiatan pemetaan yangContinue reading “Kampung Balapan: Sisa Euforia Pacuan Kuda yang Nyaris Tak Dikenali”