Melihat Sisa-Sisa Kejayaan Saudagar Penyamakan Kulit di Gresik

Pintu utama dari rumah lalu saya ketuk. Sesosok wanita berumur 70-an tahun membuka pintu.

“Maaf, Pak De Noot-nya ada?”

Penulis: Muhammad Faiz | Penyunting: Sandy Maulana

Saat itu menjelang asar di kota Gresik yang panas. Saya baru selesai mengunjungi beberapa situs di Gresik. Memasuki gang yang dipenuhi bangunan tua bertingkat dua hingga empat, saya memarkirkan motor di depan rumah dengan pilar gaya Yunani berordo dorik. Pintu utama dari rumah lalu saya ketuk. Sesosok wanita berumur 70-an tahun membuka pintu.

“Maaf, Pak De Noot-nya ada?”

“Oh iya, ada. Sebentar, ya”

Kemudian, pria tua beruban dan berkacamata menyambut saya. Beliau adalah pewaris rumah tua yang indah ini. Saya mengenalnya lewat media sosial. Akun pribadinya sering digunakan untuk mengunggah foto-foto rumah tua di kampungnya dan sekitar Gresik.

Gresik bukan hanya tentang wisata religi, atau kawasan industri. Gresik sudah sejak lama menjadi destinasi perdagangan internasional. Jika Banten menguasai perdagangan di Jawa bagian barat, maka Gresik di bagian timur Jawa. Bandar Gresik menjadi pelabuhan yang penting bagi alur perdagangan dari Maluku, ke Melaka (Meilink-Roelofsz, 2016: 81-82).

Selain itu, dinasti Giri punya pengaruh di berbagai tempat di Nusantara pada abad ke-16 dan ke-17. Berbagai murid datang ke Giri untuk belajar. Beberapa di antaranya pada masa kemudian menjadi raja, seperti Zainul-Abidin dari Ternate (Graaf & Pigeaud, 2019: 258-261).

Gambar 1. Giri Kedaton, pusat kekuasaan Dinasti Giri pada masanya. (Sumber: Faiz)

Namun, kejayaan kota ini pudar setelah Gresik dikuasai oleh Kerajaan Mataram (Graaf & Pigeaud, 2019: 262). Lambat laun pesona Gresik sebagai pusat perdagangan kalah bersinar dibanding tetangganya, Surabaya, yang menjadi ibu kota Jawa Timur. Meski begitu, Gresik pada masa-masa selanjutnya tetap ramai oleh bangsa Arab dan Tionghoa yang memilih menetap dan saudagar-saudagar bumiputra yang terpandang.

Seperti Laweyan di Solo, atau Kotagede di Yogyakarta, Gresik juga memiliki kampung saudagar, yaitu Kampung Kemasan. Kampung ini awalnya didiami oleh orang Tionghoa bernama Bak Liong. Sejak tahun 1855, kawasan tersebut dibeli oleh pengusaha penyamakan kulit bernama H. Oemar bin Ahmad. Selain itu, Beliau juga beternak walet di bagian atas rumahnya.

Pemilik rumah yang tengah saya sambangi, Pak De Noot, adalah keturunan dari H. Oemar bin Ahmad. Dari beliau, saya mengetahui bahwa usaha yang dijalankan leluhurnya sepadan dengan rumah-rumah megah yang dibangunnya. Koneksinya berkisar dari Tasripin di Semarang, hingga pengusaha Tionghoa di Pasar Baru, Jakarta.

Tahu dari mana? Yang pasti bukan Sumedang.

Beruntungnya, Pak De Noot menyimpan catatan-catatan dan berbagai koran peninggalan kakeknya. Beliau mengaku arsip tersebut ditemukan di suatu lemari yang akan diperbaiki. Nota-nota pembayaran, surat, hingga berbagai surat kabar mengisi lemari tersebut. Dari situ, dapat diketahui usaha keluarganya di masa lalu. Arsip-arsip tersebut kini disimpan dengan rapi olehnya.

Gambar 2. Pak De Noot memperlihatkan arsip-arsip yang Beliau miliki. (Sumber: Faiz)

Haji Oemar memiliki 7 anak, namun hanya 5 anak yang melanjutkan usaha penyamakan kulit. Mereka mendirikan perusahaan-perusahaan sendiri namun masih menambahkan ‘Bin Abdoel Hamid’ di belakang namanya. Usaha keluarga tersebut makin sukses sehingga satu deretan gang diisi rumah-rumah mewah nan besar.

Dari 5 anak yang melanjutkan usaha, ada satu nama yang paling mentereng, yaitu Haji Djaelan. Beliau tidak hanya menjalankan usahanya di Gresik, namun juga di Surabaya dan Solo. Hal ini terlihat di sampul surat yang dirilisnya. Tidak hanya penyamakan kulit, Haji Djaelan juga tercatat memiliki usaha pabrik rokok seperti yang tertulis pada Publicaties Van De Afdeeling Nijverheid en Handel tahun 1916 No. 5 halaman 22.

Gambar 3. Sampul surat dari perusahaan Hajie Djaelan & Co. (Sumber: Faiz)

Bahkan, Susuhunan Pakubuwana X, raja Kasunanan Surakarta, pernah mengunjunginya. Kunjungan ini diabadikan dalam surat kabar De Indische Courant 3 Oktober 1927. Raja Jawa ini mengunjungi Surabaya terlebih dahulu, lalu Gresik kemudian. Selain mengunjungi rumah Haji Djaelan, Beliau dan rombongannya juga mengunjungi asisten residen, dan bupati Gresik. Tidak lupa berziarah ke Makam Sunan Giri.

Gambar 4. Soesoehoenan Pakoeboewana X ketika berkunjung di rumah Haji Djaelan. Foto ini berada di dinding rumah Pak De Noot. (Sumber: Faiz)

Sayangnya, usaha penyamakan kulit keluarganya berakhir di sang kakek. Ayah, dan anak-anaknya tidak lagi melanjutkan usaha penyamakan kulit. Malahan, Pak De Noot merupakan pensiunan pegawai BUMN. Kini, keturunan Haji Djaelan berjualan batik. Batik Gajahmungkur namanya.

Berbeda dengan para saudagar Jawa di Solo, Kudus, dan Yogyakarta yang masih banyak menggunakan arsitektur Jawa di bangunan rumah, bangunan-bangunan milik saudagar di Gresik hampir tidak terlihat ciri Jawanya. Malah, gaya arsitektur Eropa lebih nampak pada bangunan-bangunan ini. 

Gambar 5. Kampung Kemasan. Kawasan ini sudah menarik banyak para wisatawan ‘selfie’. Walaupun tidak ramai-ramai amat. (Sumber: Faiz)

Warna merah, dan putih mendominasi rumah-rumah di kampung ini. Gaya arsitektur rumah-rumah tersebut umumnya bergaya art nouveau, dan neo klasik. Terlihat pada penggunaan ornamen-ornamen khas art nouveau, dan pilar-pilar Yunani berordo Dorik. Beberapa memiliki dinding dengan bata expose sebagian, dan diplester sebagian.

Beberapa rumah memiliki pagar dengan gapura, tetapi ada juga yang tidak. Banyak rumah yang lantainya dilapisi oleh tegel warna warni. Bagian paling atas umumnya menjadi tempat beternak burung walet.

Gambar 6. Rumah Haji Djaelan. Rumah yang kiri adalah tempat Susuhunan Pakubuwana X dan rombongannya berfoto. Rumahnya tidak berada di Kemasan, tetapi masih berdekatan. (Sumber: Faiz)

Keluar dari Kemasan sedikit, deretan rumah tua masih banyak terlihat. Salah satu yang paling mentereng adalah Rumah Gajahmungkur yang dulunya merupakan rumah dari Haji Djaelan. Kompleks rumah tersebut memiliki dua rumah. Keduanya memiliki gaya arsitektur yang berbeda. Rumah yang ada di sebelah kanan memiliki gaya seni yang lebih condong ke art nouveau, sedangkan yang di kiri condong ke art deco.

Walaupun tidak diketahui siapa perancang bangunannya, hemat saya rumah-rumah ini dibangun oleh para pemborong Tionghoa. P.A.J. Moojen, seorang arsitek era kolonial di Hindia Belanda, pernah menulis bahwa orang-orang Tionghoa mengerjakan bangunan secara bertahap. Mereka dan para kuli bekerja di bawah pengawasan nyonya rumah. Tidak ada tempat bagi arsitek sebagai subkontraktor. Lebih baik kembali ke Belanda jika si arsitek kekeuh mempertahankan idealisme yang ia punya karena dalam perencanaan bentuk hunian, tuan rumah punya kuasa absolut dan jarang mau berkompromi (Dulleman, 2018: 17).

Menurut saya, akan lebih baik jika bangunan-bangunan di Kampung Kemasan dapat dimanfaatkan menjadi museum, atau lainnya yang bersifat edukatif. Bangunan-bangunan di kawasan ini sudah cocok menjadi museum arsitektur yang terbuka. Beberapa rumah yang kosong dapat digunakan sebagai galeri. Contohnya seperti Museum Benteng Heritage di Tangerang, Baba Nyonya atau Museum Peranakan di Penang.

Kehidupan atau sejarah saudagar Kemasan, maupun topik lainnya yang berkaitan dengan Gresik sepertinya dapat diangkat. Mengingat banyak arsip yang tersimpan, dan benda-benda lainnya yang bernilai sejarah dapat ditampilkan.

Atau, jika museum dirasa terlalu biasa, pemanfaatan dalam bentuk lainnya boleh juga. Bisa jadi public space, tempat makan, working space, atau lainnya. Mungkin kalian punya usulan? Gresik juga sudah menjadi kota yang ramai walaupun statusnya hanya penyangga kota Surabaya. Yang pasti, publik dapat memanfaatkan bangunan-bangunan tersebut.

Tentu saja dana yang digunakan tidak sedikit sehingga berbagai pihak harus dilibatkan. Selain itu, banyak hal yang harus dipikirkan seperti lembaga pengurus museum, hingga hal sepele seperti tempat parkir. Perencanaan dan studi kawasan lebih lanjut perlu dilakukan.

Walau begitu, semua kembali lagi ke pihak yang bersangkutan (atau bahasa aliennya, stakeholder) dengan kawasan tersebut. Terutama warga yang tinggal di sekitarnya. Apalagi, yang paling mengerti kawasan adalah warganya sendiri.

“Kapan-kapan saya kesini lagi, ya pak. Tapi bawa teman”, ucapku ketika pamit dengan Pak De Noot.

Daftar Pustaka

De Indische Courant 3 Oktober 1927. (1927). Surabaya.

Dulleman, C. v. (2018). Arsitektur Tropis Modern : Karya dan Biografi C.P. Wolff Schoemaker. Depok: Komunitas Bambu.

Graaf, D. H., & Pigeaud, D. T. (2019). Kerajaan Islam Pertama di Jawa : Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI. Sleman: Mata Bangsa; KITLV-Jakarta.

Meilink-Roelofsz, M. (2016). Persaingan Eropa dan Asia di Nusantara. Depok: Komunitas Bambu.

Publicaties Van De Afdeeling Nijverheid en Handel tahun 1916 No. 5. (1916 ). Batavia: Gedrukt Bij Ruygrok & Co.

Wawancara dengan Pak De Noot 20 Oktober 2019.
(n.d.).

Muhammad Faiz

Halo semuanya, perkenalkan saya Faiz. Kebetulan lahir di suatu kota di timur kaki Gunung Merapi. Suka jalan-jalan terutama blusukan bertema sejarah dan arkeologi, juga kulineran. Walaupun begitu, saya juga menikmati rebahan, membaca, menggambar, dan menulis sama seperti saya menikmati jalan-jalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: