Menonton Hari-hari Radya Pustaka

Yang prasaja juga punya makna

Penulis: Tyassanti Kusumo | Penyunting: Sandy Maulana

Melihat museum bekerja tentu tidak bisa hanya mengandalkan tampilan luar macam koleksi, program, dan publikasi, tetapi juga bisa ditilik pada siapa saja yang ada di belakang layar.

Mereka yang bertumbuh dan menua bersama museum, yang secara nyata membaktikan diri melawan terpaan zaman.

Gambaran kegigihan, atau bisa juga kita maknai sebagai ketulusan, dalam melakoni profesi yang bergelut di dunia museum, budaya dan purbakala telah dapat kita simak di film dokumenter Hari-hari Radya Pustaka.

Film berdurasi 22 menit ini mempertontonkan banyak wajah yang sehari-hari bercokol di Museum Radya Pustaka, Solo.

Mulai dari Fajar, staf perawatan museum dan Nia, filolog museum yang sama-sama telah mengabdi selama 12 tahun, Bangkit selaku kurator museum dan Yanti, yang giat membagikan energinya selama 16 tahun terakhir sebagai edukator Radya Pustaka. 

Film bergerak dalam tempo yang pelan dan sederhana.

Adegan per adegan banyak mengekspos koleksi museum—yang menurut hemat saya tak banyak berubah dari kali pertama saya berkunjung saat SD—dan beberapa kegiatan sehari-hari, seperti menerima kunjungan dari sekolah, memfasilitasi pencarian pustaka, merawat koleksi serta menerima konsultasi pawukon.

Dua yang terakhir merupakan aktivitas yang cukup unik. 

Konsultasi pawukon adalah hal yang tak jamak ditemukan di museum. Bahkan, di museum-museum lain yang tersebar di Pulau Jawa sepertinya kegiatan seperti ini kurang lazim diselenggarakan.

Namun, bila berangkat dari titik awal Radya Pustaka sebagai lembaga pengarsip dan pegiat kebudayaan Jawa, kita bisa mafhum bahwa kegiatan ini menjadi praktik yang lekat dengannya, dan tentu paling dekat dengan konteks masyarakat sekitar (masyarakat Jawa).

Setidaknya, konsultasi pawukon menjadikan Radya Pustaka dapat tetap eksis di tengah bising perkembangan masyarakat dan lingkungan sosial.

Kerja merawat koleksi, dalam cuplikan-cuplikan gambar yang disajikan, kurang lebih terbagi jadi beberapa babak.

Di menit-menit awal, tampak Fajar khusyuk menyiapkan dupa, beberapa kembang, beserta segelas kopi dan ciu yang dimaksudkan sebagai sesaji untuk koleksi Canthik Rajamala.

Sudah menjadi kepercayaan turun temurun di Radya Pustaka bahwa tiap Selasa dan Jumat Kliwon, koleksi ini wajib diberi perhatian khusus berupa hantaran sesaji.

Fajar menambahkan, “Kalau Rajamala ini tidak diberi sesaji, biasanya akan muncul bau anyir. Itu (kepercayaan) yang paling terkenal”. 

Muncul kembali dengan artefak yang berbeda, Fajar dengan sapuan tangan yang tegas bermaksud untuk membersihkan coretan pada prasasti. Diiringi dengan gerutunya terhadap aksi corat-coret di permukaan prasasti, yang menurutnya tidak bijak. 

Di menit-menit pertengahan, tampak dua orang staf, salah satunya adalah Bangkit, yang sedang membersihkan arca batu dan melakukan dokumentasi serta pencatatan.

Bagian ini menjadi menarik karena kita disuguhkan fakta bahwa enam arca dari Radya Pustaka yang pernah hilang pada 2007 telah kembali menjadi bagian dari koleksi museum.

Peristiwa penghilangan dan pemalsuan arca pada 2007 memang sempat membawa nama Radya Pustaka mencuat ke publik.

Bahkan hingga sekarang, perbincangan mengenai Radya Pustaka masih saja disangkutkan pada perkara tersebut dengan membawa sentimen negatif kepada pengelola museum.

Raut muka Nia terlihat cukup datar saat menjelaskan bahwa sekitar tahun-tahun tersebut banyak pengunjung yang datang hanya untuk menghujat para pegawai, menyebut pengelola museum sebagai maling dan cecaran tak mengenakkan hati lainnya.

Namun, hal itu tak pernah menyurutkan niat baik dan semangat mereka untuk terus merawat koleksi. 

Meski hingga menit terakhir gambaran yang ditunjukkan cukup stabil, dalam artian tak ada yang begitu dingin dan tak ada yang begitu hangat, atau barangkali memang film ini betul-betul menggambarkan suasana sehari-hari di Radya Pustaka yang begitu adanya, adegan peringatan ulang tahun museum yang ke-129 di menit-menit menuju akhir cukup menggetarkan hati. 

Setelah sebelumnya paling banter ada tiga orang dalam tiap scene, kini setidaknya terdapat sembilan orang duduk bersama dengan sebuah tumpeng di tengah-tengah mereka.

Pembacaan doa disertai harapan-harapan terhadap museum yang telah melalui wolak-waliking zaman menjadi emosi haru biru tersendiri. Gelak tawa maupun obrolan-obrolan hidup yang sebelumnya absen di scene-scene awal, ditampilkan sewajarnya dalam acara tumpengan ini. 

Mengulang pernyataan saya sebelumnya, keseluruhan isi film barangkali merupakan resonansi dari kondisi sehari-hari Radya Pustaka.

Tak begitu banyak suara, gerakan, kebisingan, sesuatu yang mengejutkan. Hari-hari akan sama, dilalui dengan orang-orang yang berasal dari lingkaran itu-itu saja serta rutinitas yang tak jauh berbeda.

Baru pada akhir film terucap satu dialog penting yang menjadi kunci bagi eksistensi Radya Pustaka secara khusus dan museum-museum lain di Indonesia yang sedang tersengal nafasnya, terutama dalam situasi pandemi seperti ini.

“Ya kalau museum tidak menarik, ya iya, memang. Memang tidak menarik kalau dilihat dari gedungnya. Terus, dilihat dari bendanya yang hanya duduk di sana, yang hanya dipajang di lemari, tidak menarik. Tetapi kalau orang ingin tahu di balik itu, terus dia sedikit saja membuka pikiran, pasti itu akan menjadi sangat menarik, dan bahkan mungkin akan ada perkembangan pemikiran.”

Catatan:
Film dokumenter Hari-hari Radya Pustaka bisa ditonton di kanal Youtube Yayasan Kembang Gula. Diproduksi tahun 2019 oleh sutradara Agustian Tri Yuanto dan Produser Fanny Chotimah, film ini menyorot dedikasi orang-orang ‘di balik layar museum’ sekaligus memperlihatkan relevansi Radya Pustaka di tengah masyarakat.

Sebagai informasi tambahan, baru-baru ini Radya Pustaka juga turut terseret dalam sengketa lahan Kompleks Taman Sriwedari. Sengketa, yang bukan merupakan perkara kemarin sore, dapat berdampak langsung pada museum dan segenap koleksinya, sebab akan ada eksekusi dan pemindahan tempat. Dirasa-rasa secara sekilas saja, bukan merupakan ide yang baik. Selain didasarkan pada konflik kepentingan yang beragam —tanpa mempertimbangkan konteks historis dan budaya, efek keberjarakan terhadap museum pun akan semakin nyata. Lagi, bisa menjadi pengukuhan lazimnya praktik pengabaian terhadap museum.

Museum Radya Pustaka (infografik: Jenifer Papas)

Tyassanti Kusumo
Bercita-cita mendirikan klub memasak remahan sayur dalam kulkas. Bisa diajak korespondensi melalui alamat surel tyassantikd@gmail.com 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: