Museum Arkeologi Bawah Air Pertama Indonesia: Persiapan Kita Hingga Waktunya Tiba

Tahukah kamu jika laut memiliki lebih banyak koleksi bersejarah dibanding seluruh museum di dunia? Dari situ saya sadar, mengapa dunia perlu peduli dengan tinggalan yang ada di bawah laut.

Penulis : Sultan Kurnia A.B. | Penyunting : Salma FK, Sandy Maulana
(cr : Sultan, dok. pribadi)

Seperti yang lain, selama pandemi ini saya banyak mengikuti webinar bertema Arkeologi yang diselenggarakan oleh lembaga penelitian, universitas, maupun kelompok mahasiswa salah satunya Himpunan Mahasiswa Arkeologi UGM (HIMA UGM). 

Kali ini, HIMA banyak mengusung pembahasan tentang arkeologi bawah air. Bukan hanya perkara survey dan pengukuran kapal karam, tapi juga upaya konservasi dan pemanfaatan tinggalan bawah air dari berbagai perspektif. Selain mendapat topik-topik baru, bagi saya seminar dari HIMA menjadi ajang reuni dengan teman-teman.

Sebagai contoh dua webinar yang terakhir saya ikuti, yaitu Manfaat Pertimbangan Lingkungan dalam Perlindungan In-Situ Tinggalan Arkeologi Bawah Air dan Museum Bawah Air Tinggalan Arkeologi M.V Boelongan Nederland: Sebuah Gagasan Pembaharuan Museum. Keduanya merupakan pengembangan dari kajian-kajian sebelumnya sejak tahun 2012, di tempat yang sama, kapal yang sama. Tepatnya MV. Boelongan Nederland, kapal karam di Teluk Mandeh, Sumatera Barat. Walau begitu, ide-ide yang disampaikan tergolong baru. Karena, ide tentang konservasi shipwreck serta  pemikiran untuk membuat museum bawah air relatif jarang diusulkan dalam bahasan arkeologi Indonesia sehari-hari.

Museum Arkeologi Bawah Air

Kesempatan untuk mengikuti International Conference in Management of Accessible Underwater Cultural and Natural Heritage Sites di Athena, 2019 menjadi pengalaman berharga bagi saya untuk mengetahui langsung tentang pelestarian arkeologi bawah air (ABA) yang selama ini hanya tercetak di jurnal dan laporan UNESCO. Tema utama pada konferensi ini adalah pengelolaan dan pemanfaatan ABA yang lebih mudah diakses. Pemaparan tentang museum bawah air, taman arkeologi bawah air, teknologi VR, teknologi survei dan pengukuran situs termutakhir serta regulasi-regulasi yang terkait dibawakan disini, dan mayoritas untuk wilayah Eropa.

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah mungkin kita membuat museum bawah air? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada dua konsep mengenai pelestarian ABA secara in situ yang perlu dicermati. Berkat konferensi ini, hal tersebut menjadi lebih terang. Dan, perlu diingat bahwa tujuan dari pelestarian semacam ini adalah agar objek bawah air dapat lebih mudah diakses oleh semua kalangan.

Konsep pertama adalah museum atau taman bawah air yang objeknya hanya dapat diakses dengan kegiatan menyelam. Situs dan lingkungannya dibiarkan berada di dalam laut. Beberapa contohnya telah terdapat di Italia, Kroasia, dan Yunani. Lalu, apa bedanya konsep museum atau taman arkeologi bawah air seperti ini dengan objek wreck diving pada umumnya? Menurut saya, secara sederhana perbedaan hanya terdapat pada pengelola yang lebih resmi di bawah pengawasan institusi negara yang berwenang. Di samping itu, ada aturan penyelaman yang lebih ketat, baik waktu maupun alur kunjungan dengan mempertimbangkan kelestarian kondisi situs dan lingkungan sekitar. Terakhir, adanya kegiatan-kegiatan arkeologi di situs secara berkala yang dapat dilihat oleh turis sebagai pembelajaran. 

Konsep kedua yaitu situs yang dapat diakses dengan aktivitas menyelam maupun tanpa menyelam. Tanpa menyelam, yakni melihat situs di bawah air secara langsung dan dekat, bahkan hanya dengan berjalan kaki. Dengan begitu semua kelompok usia  dapat mengunjunginya, pun penyandang disabilitas. Namun, konsep ini membutuhkan usaha dan modal yang besar. Diperlukan bangunan yang relatif besar dan kokoh di bawah laut lengkap dengan teknologi pendukung. Salah satu contoh, The Baiheliang Underwater Museum di Cina yang merupakan museum bawah air in situ pertama yang dapat dinikmati tanpa penyelaman. Adapun proyek museum ABA yang masih berupa perencanaan seperti The Underwater Archaeological Museum of Alexandria di Mesir.


Kemungkinan Mewujudkannya di Indonesia

Seberapa besar kemungkinan membuat museum dan taman arkeologi bawah air di Indonesia? Menurut saya, jika ingin mengimplementasikan konsep pertama—taman arkeologi bawah air, maka ini sangat mungkin dilakukan. Terlebih, Indonesia memiliki beberapa situs yang potensial seperti MV. Boelongan Nederland di Teluk Mandeh, USAT Liberty di Tulamben, dan Japanese Shipwreck di Sangihe.

Ringkasnya, pemerintah cukup membuat lembaga pengelola, menetapkan regulasi yang jelas khususnya tentang waktu dan alur penyelaman, menyusun storyline yang lebih baik, memasang beberapa atribut seperti nama situs dan informasi lainnya tentang situs, lalu terakhir luncurkan secara resmi dengan nama Taman Arkeologi Bawah Air. Pada waktu-waktu tertentu, pemerintah dapat meminta kalangan peneliti dan mahasiswa arkeologi melakukan ekskavasi, pengukuran, dokumentasi, dan konservasi di sekitar tinggalan bawah air yang nantinya boleh disaksikan oleh penyelam (turis).

Desain Museum Bawah Air USAT Liberty Tulamben
(cr: Zulfahri dan Aulia, 2015)

Nah, menurut saya, yang cukup sulit adalah membuat museum arkeologi bawah air dengan konsep kedua. Sebenarnya, gagasan itu telah dimunculkan beberapa peneliti meskipun jumlahnya terbatas dan masih dalam tataran wacana. Zulfahri & Aulia (2015) membuat desain museum bawah air USAT Liberty Tulamben. Desain lebih rinci berdasarkan kajian arsitektur dijelaskan Aulia (2016) dalam skripsinya. Sementara, Sandy & Kusumastuti (2019) menyusun konsep museum bawah air di lokasi tinggalan bawah air lain, yakni M.V. Boelongan.

Kemenko Kemaritiman berencana membuat Museum Bawah Laut Pertama Indonesia di situs Japanese Shipwreck, Kepulauan Sangihe. Rencana itu dimuat dalam Koran Manado Post, 6 Mei 2017 dan muncul beberapa hari setelah kami, Tim UGM Maritime Culture Expedition, melakukan ekspedisi di Sangihe. Meski rencana itu terdengar cemerlang, kami sebagai tim pelaksana ekspedisi meyakini hal tersebut masih sebatas wacana. Dan terbukti, hingga hari ini tidak terdengar lagi kabar kelanjutannya.

Pada program Five-Year PhD di Hiroshima University yang saat ini sedang berjalan, saya sempat membuat proposal penelitian untuk menindaklanjuti rencana Kemenko Kemaritiman. Hanya,  judulnya mengalami sedikit pengembangan, yakni Strategi Pelestarian Situs Kapal Karam Jepang sebagai Galeri Bawah Air berdasarkan Prinsip Pariwisata Berkelanjutan di Kepulauan Sangihe.

Di awal saya cukup meyakini bahwa dengan konsep galeri, usaha untuk mewujudkan pengelolaan tinggalan bawah air bakal lebih mudah dibanding menggunakan konsep museum. Selain itu, sepengetahuan saya Japanese Shipwreck di Sangihe memang paling ideal dibandingkan situs lain untuk dikembangkan sebagai galeri bawah air.  Hal itu didasarkan pada kondisi situs yang relatif lebih utuh, lingkungan sekitar seperti ombak, visibility, dan akses yang lebih baik. Namun, dengan mempertimbangkan berbagai kondisi baik di Indonesia maupun proses belajar di Hiroshima, akhirnya proposal itu saya simpan dulu dan menggantinya dengan judul lain.

Kita semua menyadari bahwa untuk benar-benar mewujudkan museum atau galeri bawah air diperlukan modal dana yang besar dan sumber daya manusia yang handal pada bidang teknologi, kelautan, lingkungan pesisir, dan konstruksi. Jika negara maju saja baru memulai dan sedang merencanakan, lalu apa daya kita sebagai negara berkembang?

Meskipun begitu, saya percaya dalam waktu yang tidak terlalu lama, mungkin 10, 7, atau  5 tahun lagi, Indonesia akan mampu membuat museum arkeologi bawah air dengan konsep kedua. Hal itu didasarkan atas perkembangan teknologi yang terus berkembang pesat, sehingga mungkin di masa depan untuk membuat museum bawah air tidak akan sesulit hari ini.

Selain itu, kerjasama Indonesia yang terus berjalan baik dengan perusahaan maupun negara-negara maju dalam berbagai bidang seperti pendidikan, teknologi, bisnis, dan pariwisata memungkinkan kerja sama antara pemerintah dan pihak-pihak eksternal untuk mewujudkan proyek itu. Untuk poin terakhir, cukup terbuka kemungkinannya bila melihat kecenderungan pemerintah yang terus membuka lebar keran investasi dari pihak luar. Di sisi lain, banyak ahli memprediksi bahwa di masa depan Indonesia dan negara-negara kawasan Asia Tenggara akan menjadi destinasi utama wisata bahari dunia.

Lalu apa yang perlu dipersiapkan? Hari-hari ini, saya fokus pada teman-teman mahasiswa; teruslah melakukan penelitian untuk mengembangkan gagasan besar ini. Jangan berhenti menggali ide-ide kreatif, lalu buat itu semakin mungkin untuk diwujudkan. Lakukan riset kolaboratif dengan mahasiswa lintas jurusan. Tulis semua kajian terbaru kalian dalam skripsi dan artikel di jurnal, publikasikan seluas-luasnya. Ikuti lomba, seminar, dan konferensi Internasional. Uji dan kembangkan ide-ide itu di tingkat dunia. Hingga ketika waktunya telah tiba, apakah pemerintah, negara lain, atau pihak swasta ingin membuat museum arkeologi bawah air di Indonesia, kita akan turut andil: berada dalam tim persiapannya. Minimal, kajian-kajian yang pernah dilakukan dapat memberi sumbangsih yang signifikan. Mari terus melangkah!

Catatan:
Jika ingin melihat video sebagian hasil penelitian di Konferensi Athena, Yunani 2019 lalu, klik di sini.

Tentang Penulis

Sultan Kurnia A.B. (sultan.kurnia@mail.ugm.ac.id)
Mahasiswa Five-Year PhD Taoyaka Program,
Hiroshima University. Lulusan Sarjana Arkeologi
Universitas Gadjah Mada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: