Derita Lokal

Menjadi bagian dari sejarah yang jarang dibicarakan, membuat Barus layaknya mitos.

Penulis: Sandy Maulana | Penyunting: Tyassanti Kusumo

Kalau sudah tersisih, harapan apa yang tersisa?

Juli hampir berakhir. Itu berarti sudah empat bulan pandemi melanda tanah air. Kesedihan masih berserak di mana-mana. Di layar-layar ponsel. Juga, di perserikatan ibu-ibu yang bergunjing tiap pagi di hadapan majelis tukang sayur.

Semuanya berlangsung sebagaimana adanya.

Sebenarnya, ada satu berita baik: rutinitas saya bertambah. Dua hari kemarin, saya baru menulis utas—ehem, boleh ditengok di sini, kak—yang bercerita kota pelabuhan tua di Sumatra, Barus.

Menulis soal Barus rupanya berhasil bikin saya garuk-garuk kepala. Bagaimana mungkin suatu wilayah yang menurut klaim J. Fachruddin Daulay, staf pengajar di jurusan sejarah, Universitas Sumatra Utara, telah eksis dan turut berkontribusi dalam tradisi mumifikasi masyarakat Mesir Kuno sejak 3700-3500 SM begitu jarang mendapat ekspos dalam historiografi Indonesia?

Bila dirunut ke belakang, masalah itu rupanya berakar dari dikotomi sejarah lokal dan sejarah nasional. Definisi yang rancu dalam merumuskan sejarah nasional, kata Ichwan Azhari, staf pengajar di jurusan pendidikan sejarah, Universitas Negeri Medan malah membinasakan sejarah lokal di tempat lain atau mengurung suatu peristiwa hanya dalam takaran lokal.

Ia mengambil contoh perjuangan Kartini yang diangkat sebagai simbol pergerakan wanita Nusantara justru menihilkan perjuangan tokoh wanita lain seperti Dewi Sartika di Jawa Barat atau Rohana Kudus di Sumatra. Dalam kasus lain, signifikansi Perang Sunggal di Medan yang berlangsung selama 25 tahun dirasa masih kurang pantas dipelajari sebagai sejarah nasional ketimbang Perang Diponegoro yang hanya berlangsung 5 tahun.

Saya sih percaya jika sebagian sengit yang dirasakan Ichwan berasal dari penulisan sejarah nasional yang Jawa-sentris dan mengabaikan realitas dinamika sosial yang majemuk. Ada beberapa dampak buruk yang kemudian muncul. Pertama, pengabaian makna peristiwa bagi komunitas tertentu. Kedua, ada bagian-bagian dari sejarah lokal—terutama di luar Jawa—yang luput dari perhatian sebab jarang diungkapkan. Barus adalah salah satunya.

Menjadi bagian dari sejarah yang jarang dibicarakan membuat Barus layaknya mitos. Namanya memang dikenal tapi ceritanya sulit terverifikasi karena minimnya pelacakan yang komprehensif. Kita tentu telah sama-sama mafhum bila bangsa Indonesia adalah pemalas sungguhan dalam urusan catat-mencatat. Arsip-arsip terbaik justru ditulis dan dipreservasi Belanda yang selama kurun ratusan tahun menjadikan Batavia dan Pulau Jawa sebagai sentral aktivitas mereka—maka, bila sumber-sumber primer sejarah banyak berkutat soal Jawa saja, tentu kita tak perlu kaget dan marah-marah lagi, kan?  Sementara catatan abad lebih tua yang kadang menceritakan wilayah di luar Jawa berasal dari Cina, India, atau Arab. Jauh dan sulit dijangkau.

Pledoi-pledoi di atas adalah contoh yang kerap digunakan untuk menormalisasi pengabaian terhadap sejarah lokal. Karena dianggap lokal, Barus ditelantarkan. Terjadi pula diskontinuitas pelacakan yang mana historiografi Barus masih bersandar pada tulisan lama dari peneliti asing seperti O.W. Wolter tanpa kebaharuan kritik yang memadai. Hal ini sebenarnya merupakan pekerjaan rumah bersama bagi sejarawan-sejarawan Indonesia. Setelah sadar bahwa sumber-sumber historis kuno banyak berbahasa asing—yang bukan hanya bahasa Belanda, apakah sudah waktunya untuk menambah mata kuliah bahasa Arab dan Cina di kurikulum program studi S-1 Sejarah di kampus-kampus Indonesia?

Kembali ke permasalahan pemeringkatan lokal dan nasional. Pada hakikatnya, pemeringkatan berguna untuk menentukan prioritas. Seperti halnya kasus Candi Prambanan yang telah menjadi warisan dunia dan Candi Sari, misalnya. Kita tentu bisa memaklumi mengapa dana perawatan Candi Prambanan lebih besar dibanding Candi Sari. Akan tetapi, apabila prioritas nasional diartikan sebagai ketidakacuhan bagi yang liyan dan lokal maka ia adalah mimpi buruk bagi historiografi dan warisan budaya kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: