Rempah, Asal Muasal Penjelajahan Samudra

Tuhan telah menciptakan Banda untuk pala dan Maluku untuk cengkih

Penulis : Sandy Maulana | Penyunting : Tyassanti Kusumo

Sejak SMP, kamu tentu sering mendengar cerita seperti ini di kelas sejarah, bahwa Nusantara-yang terdiri dari berbagai kerajaan hebat-adalah kepulauan makmur. Tanahnya subur, airnya juga bersih, lagi mengalir sepanjang tahun. 

Nah! Tidak heran, perdagangan lintas pulau, bahkan lintas negara, menjadi pemandangan yang lazim di Nusantara. Banyak pedagang dari negeri asing yang datang untuk saling mempertukarkan barang dengan ragam hasil bumi Nusantara, seperti beras, cendana, kayu, dan yang paling favorit: rempah-rempah.

Memangnya, kenapa sih orang dulu gemar rempah-rempah? 

Menurut Jack Turner dalam bukunya “Spice: The History of a Temptation”, rempah-rempah sangat disukai karena dapat menjadi penyedap dan pengawet makanan. Terdengar biasa aja ya? Bagaimana kalau begini: dari kurun abad ke-13 sampai abad ke-15, 75% resep makanan di Eropa membutuhkan rempah sebagai bumbu tambahan (Rahman, 2019: 351-352).

Taillevent, seorang juru masak di istana Raja Perancis abad ke-14, berkata, bila ingin menciptakan masakan dengan mutu tinggi di Eropa, seorang juru masak rata-rata perlu menyiapkan 20 bumbu rempah secara terpisah (Freedman, 2008: 19-20).

Dan tebak siapa yang paling menggemari makanan dengan bumbu rempah? Betul, orang-orang besar dan para bangsawan di Eropa. Maka sudah pasti, perburuan rempah ke sumber asalnya memiliki hubungan erat dengan motif ekonomi dari para penjelajah berani agar bisa menjual rempah dengan harga tinggi ke para bangsawan. Bagi bangsawan, ini soal gengsi dan keinginan mengonsumsi makanan bermutu tinggi.

Tome Pires, pakar obat-obatan dan penjelajah asal Portugis, dalam catatan perjalanannya yang termasyhur “Suma Oriental”, pernah menulis begini: 

“Tuhan telah menciptakan Banda untuk pala dan Maluku untuk cengkih; dan barang dagangan ini tidak dikenal di dunia ini terkecuali di dua lokasi tersebut. Saya telah bertanya dan menyelidiki dengan teliti: apakah barang ini dapat ditemukan di tempat lain? Semua orang menjawab: tidak!” (Pires, 1944: 204; lihat juga Rahman, 2019: 352).

Lebih lengkapnya, cengkih tumbuh di beberapa pulau kecil Maluku, yaitu Ternate, Tidore, Moti, Makian, Bacan, dan Halmahera. Sementara, pala berasal dari Banda dan wilayah Halmahera Timur, yaitu Maba, Patani, dan Weda (Amal, 2006: 142).

Sebenarnya, rempah-rempah Maluku telah diperjualbelikan sejak berabad-abad sebelum masehi. Dalam Alkitab disebutkan, di abad ke-10 SM, Ratu Syeba mengunjungi Raja Salomo di Yerusalem dengan menghadiahinya emas dan rempah-rempah berupa cengkih, juga cendana, dan kayu gaharu (Czarra, 2009).

Pada abad ke-3 SM, rempah sudah dikenal di Cina. Sementara di India, cengkih telah disebut dalam epos Ramayana, sekitar abad ke-2 SM, dan digunakan sebagai obat. Plinius, seorang filsuf dan laksamana Kerajaan Romawi, mengungkapkan di tahun 70 SM, rempah telah diperdagangkan secara teratur di pasar Eropa.

Sampai abad ke-15, pedagang Tionghoa dan India memiliki peran penting dalam membawa rempah Maluku hingga tiba di pasar Eropa. Rahman (2019) menguraikan, para pedagang Tionghoa membawa rempah dan menjualnya di Pelabuhan Malaka, Sumatra. Dari Malaka, pedagang India akan membawa rempah ini pulang dan memperdagangkannya di pasar rempah mereka, Malabar. Setelah itu, pedagang Arab bakal membeli, membawa rempah melintasi Samudera Hindia, dan menjualnya di pelabuhan-pelabuhan Teluk Persia dan Laut Merah. Barulah kemudian rempah dibeli pedagang Eropa.

Di abad ke-15, Turki Usmani menutup Konstantinopel untuk orang Eropa. Padahal, Konstantinopel merupakan pelabuhan terbesar, titik temu antara pedagang Timur dan Barat. Hal ini berarti satu hal: orang Eropa kesulitan membeli rempah. Otomatis, harga rempah melonjak tinggi.

Bagi para penjelajah yang berani mengarungi samudra untuk berdagang rempah. Rempah bakal membayar keteguhan hati mereka dengan keuntungan luar biasa. Sebagai perbandingan, kapal Magellan Victoria adalah kapal pertama yang membawa langsung cengkih dari Maluku ke Eropa. Di pasar Eropa, cengkih dijual dengan keuntungan 2500%! (Suroto, 2010).

Bayangkan: kamu membeli telur gulung seharga Rp.1.000 di Maluku. Ketika kamu menjual telur gulur ini di Eropa, harganya melonjak menjadi Rp.26.000 (akumulasi Rp.1.000 harga awal + Rp.25.000 keuntungan). Ini baru satu telur gulung ya. Bagaimana jika di satu kapal, kamu membeli 5.000 telur gulung. Maka keuntungan yang bisa kamu peroleh adalah…..

Dan ini mengawali penjelajahan raksasa, dengan kapal-kapal besar bangsa Eropa, ke Nusantara!

Referensi:
Amal, M.A. (2006). Kepulauan rempah-rempah: Perjalanan sejarah Maluku Utara 1250-1950. Ternate: Universitas Khairun.

Czarra, F. (2009). Spices: A global history. London: Reaktion Books

Freedman, P. (2008). Out of the east: Spices and the medieval imagination. New Haven & London: Yale University Press.

Pires, T. (1944). The suma oriental of Tome Pires. (A. Cortessao, Penerj.) London: Hakluyt Society.

Rahman, F. (2019). “Negeri rempah-rempah”: Dari masa bersemi hingga gugurnya kejayaan rempah-rempah. Patanjala 11(3), 347–362.

Suroto, H. (2010). Masa surut perdagangan rempah-rempah Maluku. Kapata Arkeologi 6(11): 110–116.

Turner, J. (2004). Spice: The history of a temptation. New York: Vintage.

Penulis : Sandy Maulana | Penyunting : Tyassanti Kusumo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: