Obrolan Empat Orang tentang Museum

Penulis: Jenifer Papas | Penyunting: Sandy Maulana

Saya bertanya ke seorang teman: kapan terakhir kali kamu tertidur tenang? pergi ke museum dan pernah ke museum apa saja? Teman saya, sebut saja Gayatri, menjawab ia pernah ke Museum Affandi. Gayatri terdiam sejenak. Tunggu, apakah museum dan galeri itu sama? Berbeda, kata saya. “Berarti saya hanya pernah ke Museum Affandi, selebihnya datang ke pameran atau galeri teman”, tambahnya kemudian.

Saya masih penasaran dan lanjut bertanya. Waktu SD sampai SMA tidak pernah ke museum? Ia menjawab, “tidak”. Jawabannya memperkuat dugaan saya bahwa museum bukan tempat yang ingin dikunjungi orang banyak. Tak seperti perpustakaan kota. Apalagi bioskop, mall dan tempat-tempat lain yang lekat dengan citra menyenangkan. Padahal sejatinya, museum juga mempunyai fungsi untuk edukasi dan hiburan. Nanti kita akan cerita tentang hari ini konsep museum lebih mendalam.

Gayatri dan saya tengah serius di depan laptop masing-masing. Gayatri mendengar konser amal Pink Floyd sementara saya berselancar di mesin pencari mengetik kata “museum indonesia”. Hasilnya? mungkin seperti yang teman-teman duga, tak muluk-muluk. Di laman pertama bertengger Museum Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah (tentu dari wikipedia). Lalu ada 10 Koleksi Museum Indonesia, 11 Museum Terbaik di Indonesia, Museum Nasional, dan seterusnya, dan seterusnya. Saya tertarik mengklik laman 11 Museum Terbaik di Indonesia.

Selang beberapa saat, Aswara dan Mahendra, dua teman saya yang lain, datang. Kami berempat duduk satu meja. Sambil berhadap-hadapan, Gayatri membuka obrolan. Katanya, saya sedang senang bertanya perihal museum. “Kalian sudah pernah ke museum mana?” sambung saya. Mahendra menjawab lugas: Museum Dirgantara. Sementara Aswara, karena itu merupakan kunjungan yang telah lama sekali, membutuhkan sedikit waktu sebelum berceletuk, Museum Radya Pustaka di Solo.

Saya belum pernah berkunjung ke kedua museum itu. Hanya tahu dari tulisan teman, yakni Museum Radya Pustaka adalah museum tertua di Indonesia dan kini statusnya terancam. Beberapa waktu lalu tagar #SaveRadyaPustaka berseliweran di media sosial. Ajakan untuk menandatangani petisi juga dilakukan agar koleksi museum, terutama naskah-naskah kuno berusia lebih dari satu abad, tak kehilangan tempat tinggal.

Dilema Radya Pustaka mengingatkan saya pada museum-museum yang pernah saya kunjungi. Rata-rata setiap museum memiliki koleksi yang itu-itu saja. Ada penggambaran seorang tokoh, lalu memperlihatkan ruang kerjanya (meja, kursi, juga mesin ketik), serta tempat tidur. Ujung-ujungnya menampilkan patung dengan pakaian adat—meski tak ada hubungannya sama sekali dengan tema museum, HHHHH.

Semuanya seolah patuh pada pedoman wajib: panduan ringkas menjadi museum membosankan.

Artikel “11 Museum Terbaik di Indonesia” yang baru saya baca juga memperlihatkan isi koleksi yang itu-itu saja. Padahal kesebelas museum ini berasal dari daerah beragam. Saya belum mengetahui apakah itu standar yang ditetapkan oleh pemerintah untuk pengelolaan museum provinsi atau museum kabupaten/kota.

Museum Dirgantara yang tadi disebut Mahendra juga menyelipkan penokohan Adisucipto, pahlawan yang namanya dipakai sebagai nama bandara di Yogyakarta. Saya jadi bertanya-tanya. Padahal, setiap koleksi memiliki arti dan maknanya masing-masing. Mengapa bukan makna itu yang diungkap ke pengunjung? Kenapa museum-museum kita masih sering blunder dengan penokohan?

Dosen saya di mata kuliah Pengantar Museologi pernah mengatakan bahwa museum hanya perlu memiliki satu koleksi—cukup satu—agar resmi menyandang predikat museum. Bisa berupa karya luar biasa yang dipuji seluruh dunia. Dapat pula cerita atau narasi-narasi yang bermakna bagi penduduk suatu wilayah.

Mendengar hal itu, Gayatri spontan bertanya. Jika kamu memiliki museum yang bertema diri sendiri, benda apa yang bakal kamu pamerkan? Saya geleng-geleng kepala karena tidak tahu apa yang ingin saya ceritakan kepada publik. “Kalau Mahendra apa?”, tanya saya. “Isinya ya kosong aja”, jawabnya santai. Kami tertawa dan saya berpikir kalau museum saya mungkin bakal kosong juga. “Kalau Museum Gayatri, koleksinya bisa bercerita tentang tato yang kamu miliki karena tato tersebut mempunyai makna dan arti penting untuk kamu, alih-alih memamerkan kamu sebagai seorang tokoh”.

Nah, kamu yang sedang membaca tulisan ini, ingin membuat museum seperti apa?

Happy International Museum Day 2020!

Penulis: Jenifer Papas | Penyunting: Sandy Maulana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: